CARI

Memuat...

Senin, 20 Desember 2010

berbagai usaha pemanfaatan tik


BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Kehadiran TIK telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.

B.   Tujuan
-      Memberikan informasi mengenai usaha-usaha pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan di Indonesia.
-      Mengerjakan tugas Pengantar Teknologi dan Komunikasi Informasi yang di empuh oleh Bu Eveline Siregar.

C.   Rumusan Masalah
-       Apakah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia?
-       Mengapa TIK diperlukan dalam dunia pendidikan?
-       Apa Faktor-faktor diperlukannya TIK dalam pendidikan?
-       Apakah ada pergeseran dalam proses pembelajaran?
-       Usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini?
-       Strategi-strategi apa saja yang diperlukan untuk menghadapi tantangan penerapan TIK?










BAB II PEMBAHASAN

A.  Pemanfaatan TIK berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia sebenaranya sangat berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan dan cara belajar mengajar di Indonesia yang masih konvensional. Pemanfaatan TIK ini mulai dibutuhkan melihat kebutuhan yang semakin menginkat dalam hal komunikasi secara langsung dan melihat dari letak geografis dan demografis Indonesia yang sebenarnya sangat cocok menerapkan TIK dalam pendidikan.
Dari letak geografis bisa dilihat bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terbentang luas dan antara pulau satu dengan lainnya saloing terpisah cukup jauh. Dari sini bisa dilihat perlunya suatu bentuk petukaran komunikasi dan informasi yang cepat dan memadai agar terjadi persamaan persepsi dalam elajar mengajar (memiliki landasan yang sama dan tidak subjektif).
Dari letak demografis, bisa dilihat bahwa Indonesia merupakan Negara dengan penduduk yang sangat besar (kurang lebih 20 juta orang) dan pada kenyataannya, sampai sekarang penyebaran pendidikan tidak merata karena konsentrasi pendidikan, sama halnya dengan pembangunan, masih berpusat di pulau Jawa. Karena itu perlu suatu infrastruktur dan saran yang bisa menjembatani ketidakseimbangan pemerataan pendidikan ini. Salah satu cara yang paling efektif dan sampai sekarang paling murah adalah dengan memanfaatkan TIK.
Mengapa dibilang paling murah? Lihatlah dari segi pembangunan infrastruktur pendukung TIK dalam pendidikan. Dengan sekali membangun dan membuat jaringan antar semua instansi pendidikan di Indonesia, kita semua sudah saling terhubung seperti sebuah jaringan raksasa yang bisa saling berbagi informasi dan saling berkomunikasi. Memang pada awal pembangunan infrastruktur ini terasa berat dan mahal, namun itu seperti sebuah investasi yang nantinya akan menghasilkan buah yang lebih besar dari harga yang harus dibayar.

B.   Alasan Mengapa TIK diperlukan
Alasan mengapa TIK diperlukan untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia karena TIK berperan sebagai:
1.     Sebagai sumber ilmu pengetahuan terkhusus internet yang merupakan pusat seluruh referensi pembelajaran. Internet merupakan suatu jejaring raksasa yang mempertemukan dan mengintegrasikan seluruh pusat-pusat referensi pembelajaran yang ada di muka bumi ini.
2.     Masih dalam konteks KBK dan internet, adalah kenyataan bahwa internet tidak saja menjadi pusat sumber referensi, tetapi lebih jauh lagi menjadi tempat bertemunya para individu pembelajar itu sendiri. Dengan fasilitas aplikasi komunikasi seperti email, mailing list, chatting, dan blogging maka seorang siswa yang sedang belajar fisika di Balikpapan dapat berinteraksi dengan tokoh idolanya pemenang nobel fisika dari belahan bumi lain dengan leluasa. Tidak hanya itu, seorang mahasiswa yang mengalami kesulitan ketika sedang menyusun skripsi dapat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan rekan-rekan sesama mahasiswanya dari perguruan tinggi lain tanpa harus beranjak dari lokasinya. Dengan menggabungkan kedua peranan strategis TIK yang telah dipaparkan sebelumnya, maka akan didapatkan sebuah peranan yang menjadi penyebab terjadinya revolusi di dunia pendidikan, yaitu TIK sebagai media pemungkin terjadinya transformasi pendidikan.
3.     Proses digitalisasi terhadap sumber daya pendidikan dan proses pendidikan melahirkan berbagai inisiatif penyelenggarakan kegiatan mengajar-belajar dengan memanfaatkan internet sebagai media penembus batas ruang dan waktu.
4.     Dalam dunia pendidikan lebih mengarah pada unsur pengelolaan institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus. Peranan yang dimaksud adalah kemampuan TIK sebagai teknologi penunjang manajemen operasional institusi pendidikan, agar pengolahan berbagai sumber daya yang dimiliki dapat terjadi secara efektif,efisien,optimal,dan terkontrol dengan baik.

C.    Faktor diperlukannya TIK dalam pendidikan
Faktor diperlukannya TIK dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai berikut:
1.    Keterbatasan Kuantitas Sumber Daya Pendidikan :Di negara dengan populasi sekitar 250 juta ini aspek keterbatasan sumber daya pendidikan menjadi isu penting yang tak berkesudahan. Terbatasnya jumlah guru dan dosen dengan kualifikasi pendidikan tertentu, terbatasnya jumlah referensi pendidikan yang dapat dipergunakan siswa, terbatasnya jumlah sekolah bermutu yang dapat diandalkan, terbatasnya jumlah perpustakaan pendidikan yang dapat diakses, dan terbatasnya jumlah laboratorium untuk praktek, hanyalah merupakan sejumlah contoh keterbatasan yang dimaksud.
2.    Kesenjangan Kualitas Sumber Daya Pendidikan
3.    Ketidakmerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan :  Secara tidak langsung, melalui manfaat peningkatan kuantitas dan kualitas yang telah disampaikan di atas, permasalahan klasik terkait dengan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa dengan sendirinya dapat segera terwujud. Konsep Universitas Terbuka yang telah mampu menjangkau seluruh masyarakat hingga ke daerah terpencil dapat segera diikuti dengan penerapan konsep “sekolah terbuka” atau “perpustakaan terbuka”. Sejauh peserta didik yang bersangkutan bersemangat untuk belajar keras, dan institusi pendidikan yang ada mau merubah paradigma penyelenggaraan model pendidikannya, maka dengan bantuan TIK, segala keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat diatasi permasalahannya.
4.    Model dan Pendekatan Pendidikan yang Kurang Relevan: Semakin cepatnya perkembangan ilmu dan perubahan di dunia ini menuntut setiap manusia dan institusi pendidikan untuk selalu memperbaharui dirinya dengan cara-cara pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan perubahan itu sendiri.

D.  Usaha-usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini  
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini adalah dengan menggunakan media yang sudah ada seperti media komunikasi baik secara digital maupun tertulis seperti televise, koran, radio, buku, atau internet (sekarang ini ada metode belajar jarak jauh dan home schooling)dan juga alat bantu lain yang lebih terjangkau, murah dan mudah didapatkan seperti barang-barang yang menurut kita hanya sampah tetapi sebenarnya masih dapat kita gunakan seperti botol air mineral dapat dipakai sebagai bahan membuat roket air. Jadi, alat untuk mempraktek sesuatu kepada murid tidak membutuhkan barang yang mahal, dengan sedikit kekreatifan dari guru ataupun pihak-pihak yang terlibat maka akan menciptakan suatu hal yang bermanfaat dan lebih mendukung proses pembelajaran.

E.   Lima Pergeseran dalam proses pembelajaran
Dengan berkembangnya penggunaan TIK  terkhusus dengan memanfaatkan internet sebagai salah satu sarana  pembelajaran ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
1)    . dari pelatihan ke penampilan
2)    dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja
3)    dari kertas ke “on line” atau saluran
4)    fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja
5)    dari waktu siklus ke waktu nyata

F.    Strategi-strategi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan penerapan TIK
1.    Perubahan Paradigma dan Pemberdayaan SDM: Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari penerapan TIK di lingkungan pendidikan, tentu saja harus melalui perubahan pola pikir yang cukup fundamental – bahkan dalam sejumlah konteks sedikit radikal. Dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan lembaga-lembaga pendidikan terlihat bahwa kunci utama keberhasilan inisiatif apapun terkait dengan pemanfaatan TIK di lingkungan mengajar-belajar sangat tergantung pada tenaga pengajar, yaitu guru atau dosen.
2.     Penyediaan Infrastruktur dan Fasilitas TIK : maka hal terakhir yang harus dipikirkan adalah bagaimana dengan segala keterbatasan yang ada dapat disediakan infrastruktur dan fasilitas TIK yang memadai. Kuncinya hanya satu, yaitu motivasi dan keinginan untuk terjalinnya kerjasama antara sesama institusi pendidikan, dan dengan pihak swasta, komunitas, maupun pemerintah sebagai perumus kebijakan pendidikan nasional.














BAB III KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesimpulan
          Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan meningkatkan profesionalisme guru. Salah satu cara meningkatkan yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan kemampuan guru memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Di era modern ini Guru dikatakan profesional apabila menguasai TIK, dan apabila sebaliknya maka akan disebut guru ketinggalan jaman.
Arti TIK bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan TIK ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan TIK  ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi dan komunikasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik.
Penutup
Tak ada gading yang tak retak, maka dari itu kami mohom maaf jika ada hal-hal yang kurang puas saat anda membaca makalah yang kami buat ini.
Sumber:
Cahyadi, Pendidikan di Indonesia, Yogyakarta: Gramedia, 2000.

Rabu, 15 Desember 2010

FILOSOFI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Makalah Mk. Pengantar Teknologi Pendidikan (2)
Dewi Salma Prawiradilaga
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
IKIP Jakarta
1999
makalahTP2\DSP. 2
Tulisan ini merupakan makalah lanjutan yang digunakan sebagai
bahan bacaan untuk matakuliah Pengantar Teknologi Pendidikan.
Walaupun para mahasiswa jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan tidak disiapkan untuk menjadi guru, namun mereka
harus mengetahui suka duka dan situasi belajar mengajar yang
terjadi di sekolah atau di mana saja. Dengan mengacu pada
pendapat ini maka, bagian akhir makalah membahas hal tersebut
secara sederhana.
Namun, sebelumnya, agar mahasiswa mampu menganalisis proses
belajar mengajar dengan sebaik-baiknya, maka mereka memerlukan
landasan berpikir yang stabil dan menjadi ciri khas dari seseorang
yang mendalami bidang teknologi pendidikan. Berpikir sistemik dan
berlandaskan system dibahas pada bagian awal makalah ini. Dengan
demikian, mahasiswa sudah dipersiapkan sebelumnya bagaimana
mengamati kejadian sehari-hari di kelas, bagaimana proses belajar
bisa terjadi dalam diri seseorang dan bagaimana lingkungan belajar
yang sehat harus dipersiapkan.
Dengan makalah ini, diharapkan bacaan dasar di bidang teknologi
pendidikan sementara dapat diatasi. Tentu saja masukan dari
pembaca sangat bermanfaat bagi perbaikan yang akan dilaksanakan
nanti. Selamat belajar !
DSP/1999.
makalahTP2\DSP. 3
Pengantar hal. 2
Daftar Isi hal. 3
I. Landasan Berpikir hal. 4
 Pengertian hal. 4
 Proses Belajar hal. 4
 Analisis Siswa hal. 7
 Persepsi hal. 9
II. Sistem hal. 11
 Ruang Lingkup Sistem hal. 11
 Pendekatan Sistem hal. 14
III. Interaksi Belajar-Mengajar hal. 18
* Interaksi Belajar-Mengajar hal. 18
* Model Interaksi Belajar-Mengajar hal. 19
* Peran Guru hal. 21
IV. Media Instruksional dan Sumber Belajar hal. 24
 Media Instruksional hal. 24
 Peran Sumber Belajar hal. 25
Bacaan hal. 27
makalahTP2\DSP. 4
 Pengertian
Teknologi pendidikan memandang proses belajar sebagai suatu peristiwa
internal. Proses belajar disebut internal karena terjadi dalam diri siswa. Sejauh
ini sudah banyak sekali teori belajar yang dirumuskan oleh para pakar dengan
berbagai pendekatan ilmu. Proses belajar dapat ditinjau dari berbagai disiplin
ilmu. Sebagai contoh, psikolog beranggapan bahwa proses belajar sebagai suatu
proses kognitif, sedangkan pakar komunikasi beranggapan bahwa proses belajar
adalah suatu pemrosesan informasi dalam diri seseorang.
Teknologi pendidikan mengadaptasikan konsep pendekatan sistem sebagai
kerangka berpikir. Tatakerja pendekatan sistem menelaah masalah pendidikan
atau belajar dari berbagai sudut pandang hingga menghasilkan beberapa
alternatif. Penyelesaian masalah dipilih dari alternatif tadi. Pendekatan sistem
juga memandu pola berpikir penyelesaian masalah dengan efisiensi.
Banyak sekali faktor yang dapat menghambat atau mendukung terjadinya
proses belajar. Upaya teknologi pendidikan bersifat kongkrit, yaitu penciptaan
atau rancangan lingkungan belajar, atau sering disebut faktor eksternal belajar.
Rancangan kegiatan instruksional beserta guru adalah lingkungan belajar yang
biasa ditemui sehari-hari dan dianggap berpengaruh banyak terhadap proses
belajar. Kedua factor eksternal tersebut akan dibahas sebagai bagian dari
Kegiatan Belajar 2 dari modul ini.
 Proses Belajar
Perhatian teknologi pendidikan terhadap proses belajar dikemukakan oleh
Percival dan Ellington, 1984 dalam rumusan konsep orientasi siswa (studentoriented)
sebagai suatu pendekatan dalam mengatasi kesulitan proses belajarmengajar.
Keduanya berpendapat bahwa kebutuhan setiap individu siswa
makalahTP2\DSP. 5
merupakan bahan pertimbangan terpenting dibandingkan komponen lainnya
dalam dunia pendidikan; terutama demi tercapainya tujuan belajar. Berikut
rincian proses belajar.
a. Definisi Belajar
Bagi Kemp & Dayton, 1985, belajar “sebagai suatu proses terjadi pada
seseorang sebagai suatu pengalaman. Belajar berlangsung manakala
perilaku seseorang dimodifikasi – atau terjadi jika seseorang berpikir atau
bertindak berbeda”. Heinich, et al, 1993 menganggap belajar sebagai
pengembangan pengetahuan, keahlian, atau sikap ketika seseorang
berinteraksi dengan informasi dan lingkungan. Bagi mereka, waktu dan
tempat belajar tidak tertentu, belajar bisa terjadi kapan saja. Bagi Ellington
& Haris, 1986, proses belajar adalah perubahan perilaku menetap (permanen)
akibat pengalaman dan instruksional terarah.
b. Peristiwa Belajar
(1). Belajar sebagai suatu pemrosesan informasi
Gagne, Briggs, dan Wager menjabarkan peristiwa belajar berdasarkan pola
pemrosesan informasi seperti berikut ini.
Menurut teori pemrosesan informasi, belajar terjadi karena seseorang
menerima informasi dari lingkungan. Informasi kemudian diterima
seketika melalui memori jangka pendek. Pengendapan dan penyimpanan
informasi tadi dilakukan oleh memori jangka panjang. Sebelum
diendapkan, informasi tadi diolah dan disesuaikan dengan pola berpikir
individu. Untuk optimalisasi proses belajar, diperlukan pemantauan dan
harapan sebagai penggerak dan motor bagi kemajuan belajar agar mudah
jika informasi tersebut dibutuhkan. Gambar proses belajar dapat dilihat pada
halaman berikuti.
(2). Model-model kegiatan belajar.
makalahTP2\DSP. 6
(Belajar sebagai suatu pemrosesan informasi, Gagne, et al, 1992).
Kegiatan belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi mengandung arti luas.
Belajar dapat multidimensi, tidak tergantung usia dan jadwal atau bisa
terjadi di mana saja selama situasi memungkinkan. Plomp & Ely, 1996 dalam
International Encyclopedia of Educational Technology berhasil merumuskan
beberapa model belajar.
Model-model belajar tersebut diantaranya adalah
- belajar langsung (direct instruction) yaitu kegiatan belajar yang berpola
pada belajar berstruktur dengan mengikuti kurikulum yang berlaku.
Pola belajarnya adalah pola konvensional yang memerlukan kehadiran
guru, mengandalkan kegiatan tatapmuka, serta membutuhkan
L
I
N
G
K
U
N
G
A
N
KONTROL
PELAKSANA
P
E
M E
B F
E E
R K
I
PENGHASIL
RESPON
HARAPAN/
KEINGINAN
P
E
N
E
R
I
M
A
P
E
N M I
E E N
R L D
I A E
M L R
A U A
A I
N
MEMORI
JANGKA
PENDEK
MEMORI
JANGKA
PANJANG
makalahTP2\DSP. 7
lingkungan khusus. Penyediaan media, ruang kelas, dan perpustakaan
adalah contoh-contoh yang termasuk lingkungan khusus.
- Belajar secara terbuka (open learning) : kegiatan belajar yang tidak
terpaku pada kegiatan belajar di kelas, atau tidak memiliki jadwal dan
lokasi tetap untuk bertatap muka. Belajar terbuka juga tidak mengenal
batasan umur. Sudah tentu kehadiran guru tidak lagi menjadi syarat
mutlak bagi proses belajar. Kemandirian sangat dituntut dari siswa.
Belajar terbuka dapat diterapkan untuk peserta dalam jumlah yang
banyak (massa). Kurikulum yang digunakan sama dengan kurikulum
bagi kelas konvensional.
- Belajar kooperatif (cooperative learning) : suatu inovasi dari situasi belajar
di kelas, yang memanfaatkan keterlibatan dan kerjasama seluruh siswa.
Belajar kooperatif memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih
banyak lagi dari siswa lain sewaktu penyelesaian suatu tugas kelompok.
Bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata temannya, ia
dapat dipilih untuk menjadi tutor.
 Analisis Siswa
Seperti tersebut tadi, peristiwa belajar merupakan proses internal. Pengamatan
terhadap siswa sebaiknya dilakukan sejak dini, karena siswa memerlukan
kesiapan mental dan akademik. Pengamatan diprioritaskan pada aspek :
a. Karakteristik umum
Kondisi fisik sejak lahir, merupakan karakteristik umum siswa yang tidak
dapat diubah. Sebagai contoh, kondisi indera penglihatan siswa, yaitu
mengenai ketajaman visual. Setiap individu siswa memiliki ketajaman visual
berbeda. Bagi siswa yang memiliki ketajaman visual kurang dari rata-rata,
maka ia dapat dibantu dengan penggunaan kacamata. Siswa juga memiliki
makalahTP2\DSP. 8
sifat dan karakter tertentu yang tidak atau belum tentu dapat diubah melalui
proses belajar.
Bagi Heinich, Molenda, dan Russell, 1996, karakteristik umum adalah
analisis keadaan siswa dan latar belakangnya; tidak terkait dengan materi
belajar, tetapi dapat membantu menentukan tingkat kesulitan, pemilihan
pesan (materi belajar). Umur, kelas/tingkat, pekerjaan, serta posisi adalah
contoh dari karakteristik umum. Ketiga pakar menyebutkan pentingnya
karakteristik umum siswa untuk dikaji. Karakteristik umum cenderung
statis, dan menetap selama beberapa waktu, dan tidak berubah hanya karena
seseorang belajar.
b. Karakteristik Akademik
Karakteristik akademik berkaitan dengan kemampuan prasyarat siswa.
Kemampuan prasyarat merupakan kemampuan yang menjadi landasan bagi
penguasaan materi yang akan dipelajari oleh siswa. Kemampuan prasyarat
bisa bersifat inti (essential), yaitu kemampuan yang menjadi bagian dari
penguasaan materi atau keahlian yang akan dipelajari. Kemampuan
prasyarat bersifat pendukung (supportive) yaitu kemampuan prasyarat yang
membantu memperlancar penguasaan materi baru.
c. Tipe Belajar
Analisis siswa dapat dilakukan dengan menganalisis unsur psikologis serta
kebiasaan belajar. Unsur psikologis tersebut misalnya tentang
pengelompokkan tipe kecerdasan setiap individu siswa berdasarkan suatu
teori; misalnya teori Gardner tentang kecerdasan ganda. Gardner
berpendapat bahwa setiap individu memiliki lebih dari satu kemampuan.
Klasifikasi kemampuan menurutnya yaitu logika-matematis, kebahasaan,
kelenturan gerak, musik, ruang, hubungan antar manusia (interpersonal),
dan intra-diri (intrapersonal).
makalahTP2\DSP. 9
 Persepsi
a. Konsep dasar persepsi
Satu hal yang perlu diwaspadai sehubungan dengan proses belajar adalah
persepsi. Persepsi adalah awal dari segala macam kegiatan belajar yang bisa
terjadi pada setiap kesempatan, disengaja atau tidak. Fleming & Levie
mempercayai persepsi sebagai “suatu proses penerimaan informasi yang
rumit, yang diterima atau diekstrasi manusia dari lingkungan …….. persepsi
termasuk penggunaan indera manusia”. Kemp & Dayton, 1985 menganggap
persepsi “sebagai suatu proses dimana seseoang menyadari keberadaan
lingkungannya serta dunia yang mengelilinginya”. Persepsi terjadi karena
setiap manusia memiliki indera untuk menyerap obyek-obyek serta kejadian
di sekitarnya.
c. Persepsi visual
Secara khusus, Rieber, 1994 menyatakan pentingnya persepsi visual.
Persepsi visual sangat berperan karena proses ini menunjukkan kemampuan
seseorang untuk mengikuti, menyadari, menyerap arti atau makna dari
tampilan visual di sekitarnya secara selektif. Ia juga percaya bahwa manusia
terbiasa untuk berpikir secara visual atau memiliki gambaran visual dalam
otaknya, walau informasi yang diterima berbentuk verbal. Sebagai contoh, si
Ani membaca kata ‘kucing’. Pesan verbal yang diterima si Ani, selanjutnya
sudah diterima dalam bentuk visual. Ani dapat membayangkan wujud
kucing dalam pikirannya walaupun ia tidak melihat kucing melintas di
depannya. Persepsi visual tergantung atas pengetahuan dan pengalaman
sebelumnya.
d. Prinsip dasar persepsi
Prinsip-prinsip dasar persepsi (Fleming & Levie, 1978) meliputi antara lain :
- persepsi bersifat relatif
makalahTP2\DSP. 10
Prinsip relatif menyatakan bahwa setiap orang akan memberikan
persepsi yang berbeda, sehingga pandangan terhadap sesuatu hal sangat
tergantung dari siapa yang melakukan persepsi.
- persepsi bersifat sangat selektif
Prinsip kedua menyatakan bahwa persepsi tergantung pada pilihan,
minat, kegunaan, kesesuaian bagi seseorang.
- persepsi dapat diatur
Persepsi perlu diatur atau ditata agar orang lebih mudah mencerna
lingkungan atau stimulus (baca : materi belajar).
- persepsi bersifat subyektif
Persepsi seseorang dipengaruhi oleh harapan atau keinginan tesebut.
Pengertian ini menunjukkan bahwa persepsi sebenarnya bersifat
subyektif.
- persepsi seseorang atau kelompok bervariasi, walaupun mereka berada
dalam situasi yang sama. Prinsip ini berkaitan erat dengan perbedaan
karakteristik individu, sehingga setiap individu bisa mencerna stimuli
dari lingkungan tidak sama dengan individu lain.
makalahTP2\DSP. 11
 Ruang lingkup Sistem.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, disiplin teknologi pendidikan
membutuhkan alur pemikiran yang tegas dan jelas dalam mengatasi masalah
belajar. Pendekatan sistem merupakan suatu “budaya” berpikir bagi setiap
orang yang berkecimpung dalam bidang teknologi pendidikan. Berkaitan
dengan pola berpikir pendekatan sistem, modul ini membahas subtopik yang
relatif mempunyai hubungan erat. Sistem dikelompokkan berdasarkan :
a. Jenis
Penjabaran sistem menurut kamus, seperti dikutip oleh Banathy, adalah “….
…. satu rangkaian obyek yang terintegrasi oleh interaksi atau unsure
ketergantungan reguler; keseluruhan yang terorganisasi, sebagaimana sistem
tatasurya atau sistem telegraf”. Banathy menggarisbawahi kedua contoh –
sistem tatasurya dan sistem telegraf. Pakar tersebut membedakan ada sistem
alam dan buatan manusia. Untuk teknologi pendidikan, maka yang dibahas
adalah sistem yang termasuk buatan manusia.
b. Jenjang
Kategorisasi sistem menurut jenjang meliputi :
(1). Sistem
Sistem menurut Banathy sendiri, yaitu “organisme sintetis yang sengaja
dirancang, terdiri atas komponen-komponen yang terkait dan tergantung
satu sama lain, dan bekerja sama secara terintegrasi untuk mencapai tujuan
belajar yang sudah ditetapkan “. AECT (1977) merangkum beberapa definisi
dari beberapa sumber. Definisi-definisi tersebut diantaranya berasal dari
Silvern, yang merumuskan sistem sebagai “struktur atau pengaturan dari
keseluruhan, menunjukkan keterkaitan antar bagian-bagiannya pada suatu
proses dalam satu kerangka berpikir”, menurut Kaufman, sistem itu,
makalahTP2\DSP. 12
“(sistem sebagai proses rancangan) keseluruhan bagian-bagian yang bekerja
secara independen dan bersama-sama untuk mencapai hasil yang baik”.
(2). Subsistem
Sistem mempunyai bagian atau unsur di dalamnya. Unsur atau bagian yang
terlibat di dalam sistem disebut subsistem. Kutipan AECT atas pendapat
Silvern mengenai subsistem, yaitu “……ada dua atau lebih bagian yang
tertata rapih, …. bsa berbentuk komponen –komponen atau satu kelompok
komponen bersama-sama melaksanakan pekerjaan dalam suatu sistem yang
rumit”. Dalam satu sistem, biasanya setiap subsistem memiliki tata kerja
berbeda dari subsistem-subsistem lain. Koordinasi dan kerjasama diantara
komponen itu sendiri merupakan hal yang lebih penting.
(3). Suprasistem
Di lingkungan masyarakat banyak sekali sistem; selanjutnya sistem-sistem
tadi membentuk sistem lainyang jauh lebih besar, lebih rumit, dan lebih
canggih. Sistem terbesar disebut suprasistem. Ilustrasi pada halaman
berikut mewakili konsep sistem secara hierarkikal.
c. Cara bekerja / berpikir
Cara kerja sistem sangat bervariasi. Di bawah ini uraian cara kerja sistem
yang berkaitan denga fungsi sistem tersebut dalam bidang teknologi
pendidikan.
(1). Terbuka vs tertutup
Ditinjau dari cara kerja, sistem bisa bersifat terbuka. Suatu sistem terbuka
biasanya menerima masukan dari lingkungan, kemudian mentransformasi
masukan tersebut menjadi kegiatan-kegiatan dalam sistem, lalu
menghasilkan keluaran untuk lingkungan tadi sehingga dapat memperoleh
umpan-balik. Dengan mengkaji umpan-balik, diharapkan sistem tersebut
dapat memperbaiki diri.
makalahTP2\DSP. 13
Sistem tertutup bekerja sebaliknya. Sistem jenis ini tidak dapat menerima
masukan dari luar tatakerjanya. Sistem tertutup bersifat baku. Proses
pencernaan makanan pada manusia, cara kerja komputer (dengan subsistem
keyboard, CPU, monitor, disk drive, serta printer) adalah dua contoh dari
sistem tertutup.
(konsep sistem secara hierarkikal)
(2). Sistem analisis
Heinich dan Schiffman dalam Anglin, 1996 mengajukan rumusan sistem
analisis. Bagi Heinich, sistem analisis merupakan tehnik yang
menggabungkan dan mengkaitkan komponen-komponen – lama dan baru –
kemudia membentuk sistem baru, atau rancang-ulang sistem dengan
maksud agar sistem baru bekerja lebih efektif lagi dalam mencapai
tujuannya. Sedangkan Schiffman berpendapat bahwa sistem tersebut dapat
Subsistem
Sistem
Sistem
Suprasistem
makalahTP2\DSP. 14
terbagi dua menjadi pengumpulan data dan analisis data. Berdasarkan
kedua pendapat pakar, maka sistem analisis sangat bermanfaat untuk
menguji keefektifan program kerja, berdasarkan data dan hasil analisis.
Hasil analisis dijadikan acuan untuk memperbaiki sistem lama atau
membentuk sistem baru berdasarkan dukungan data dan masukan.
(3). Sistem pandang (system view)
Pola berpikir a la sistem perlu ditanamkan untuk berbagai masalah
pendidikan atau instruksional. Penerapan pola berpikir dalam menanggapi
masalah disebut sistem pandang (system view). Hal ini seiring dengan
pendapat Banathy, yakni bahwa konsep berpikir sistem (buatan) utuh perlu
diterapkan. Penerapan ini dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar
tujuan dapat tercapai. Seandainya pola berpikir sistem sudah melekat atau
menjadi kebiasaan, maka seseorang yang berpatokan pada konsep sistem
akan menghasilkan rumusan yang sistemik.
 Pendekatan Sistem
a. Pengertian Pendekatan sistem
(1). Rumusan konsep
Dalam buku mengenai definisi, AECT mengutip definisi pendekatan sistem.
Salah satu definisi tersebut dirumuskan oleh Kaufman. Ia menyatakan
“pendekatan sistem merupakan suatu proses pencapaian hasil atau tujuan
logis dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien, dan dianggap
sebagai suatu metode ilmiah”. Pakar ini menambahkan bahwa bisa saja
pendekatan sistem dianggap sebagai suatu proses yang harus
diidentifikasikan , kemudian masalahnya dipilih, persyaratan dan alternatif
pemecahan diatur dan dipilih. Setelah itu, ditentukan metode serta sarana
yang dibutuhkan. Pemecahan masalah terpilih perlu dievaluasi melalui
serangkaian ujicoba untuk mendapat masukan. Masukan tersebut kemudian
dijadikan bahan perbaikan atas alternatif terpilih tadi.
makalahTP2\DSP. 15
(2). Penerapan
Teknologi pendidikan menggunakan konsep pendekatan sistem sebagai pola
berpikir dalam menanggulangi kesulitan suatu proses belajar (dan
mengajar). Masalah yang timbul tidak hanya dipertanyakan dalam wujud
saja atau dengan kata tanya “apa?”, tetapi mengupayakan agar penyebab
serta alternatif bisa segera dirumuskan. Dalam hal ini, teknologi pendidikan
perlu mempertanyakan “mengapa?”, selain “bagaimana?”. Kedua kata
tanya tersebut perlu dijawab dan disusun jawabannya secara logis. Setelah
itu, masalah kembali dikaji ulang dengan baik sehingga tercapai suatu
struktur alternatif yang mampu menjawab seluruh pertanyaan tadi.
b. Model penerapan pendekatan sistem
(1). Model pendekatan sistem untuk disain belajar.
Skema di bawah ini adalahmodel penerapan pendekatan sistem yang
dikembangkan oleh Brown, Lewis, dan Harcleroad, 1977. Skema ini
dianggap multiguna karena dapat digunakan untuk menjabarkan pandangan
bidang teknologi pendidikan terhadap proses belajar. Skema ini juga
menjelaskan suatu model kegiatan instruksional yang mengacu pada pola
pemikiran pendekatan sistem.
(2). Proses individualisasi sebagai suatu pendekatan sistem.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, teknologi pendidikan sangat
memperhatikan kepentingan siswa dengan mengacu pada pola berpikir
pendekatan sistem. Usaha penerapan pendekatan sistem telah diteapkan
bagi kepentingan individu yang belajar. Romiszowski berhasil merumuskan
proses individualisasi yang sudah dilakukan oleh bidang teknologi
instruksional selama ini.
makalahTP2\DSP. 16
(model penerapan pendekatan sistem dari Brown, et al, 1977).
(2). Proses individualisasi sebagai suatu pendekatan sistem.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, teknologi pendidikan sangat
memperhatikan kepentingan siswa dengan mengacu pada pola berpikir
pendekatan sistem. Usaha penerapan pendekatan sistem telah diteapkan bagi
kepentingan individu yang belajar. Romiszowski berhasil merumuskan proses
individualisasi yang sudah dilakukan oleh bidang teknologi instruksional
selama ini. Penjelasan ilustrasi di atas sebagai berikut.
a. Rumusan
Konsep individualisasi (individualized learning) merupakan upaya teknologi
pendidikan yang mencoba mengatasi perbedaan setiap individu siswa dalam
pola belajar mengajar konvensional. Perbedaan tersebut biasanya berkaitan
dengan kemampuan, tipe belajar dan laju belajar. (lihat : Anderson dalam
Plomp & Ely, ibid, pp. 353 – 358). Keunikan dan kebutuhan siswa secara
Siswa
A. Tujuan Belajar
Tujuan khusus dan
materi
B. Kondisi
2. Pengalaman
Belajar
3. Model
Mengajar - belajar
4. Staf
5. Bahan, peralatan,
dan perangkat keras
6. Fasilitas fisik
C. Sumber
7. Evaluasi dan
revisi,
ubah total
D. Hasil
makalahTP2\DSP. 17
individu sulit diterapkan karena kendala-kendala tertentu. Keterbatasan
kemampuan dan waktu guru, sarana belajar yang tidak memadai, serta
waktu yang kaku merupakan hambatan sehari-hari dalam pola
konvensional.
b. Belajar dan pendekatan sistem
Untuk mengatasi masalah tadi, teknologi pendidikan menawarkan pola
belajar beragam seperti belajar secara terbuka dan belajar mandiri, dan
sebagainya. Alternatif kegiatan belajar ini sangat berbeda dari model belajar
konvensional. Kehadiran guru, jadwal tetap, atau ritme belajar yang harus
sama diantara siswa merupakan persyaratan pola konvensional yang perlu
lagi dipenuhi dalam proses belajar. Upaya penyediaan pola belajar tersebut
termasuk penerapan konsep pendekatan sistem.
c. Pendapat Romiszowski
Romiszowski mengemukakan beberapa alasan mengenai alternatif proses
belajar tersebut. Alasan-alasan tersebut diantaranya adalah :
- alternatif tadi sebagai suatu contoh pola belajar yang memperhatikan
siswa
- perbedaan karakteristik siswa jauh lebih diperhatikan karena siswa tidak
perlu lagi menunggu teman lainnya untuk melanjutkan proses belajar
- model belajar tadi memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan rasa tanggung-jawab terhadap keberhasilan belajar
sendiri.
Individualisasi belajar dapat dilakukan terhadap :
- laju belajar : korelasi kecepatan seseorang dalam mengkaji atau
menelaah materi dengan waktu yang dibutuhkan
- materi belajar, media, dan metode : berkaitan dengan disain pesan
- tujuan belajar, metode serta kriteria evaluasi (belajar).
makalahTP2\DSP. 18
* Interaksi Belajar – Mengajar
a. Faktor eksternal
Belajar memerlukan dukungan dari lingkungan atau faktor eksternal.
Guru, sekolah, serta sarana belajar lain termasuk lingkungan belajar. Situasi
interaktif dituntut agar proses belajar berjalan lancar. Situasi interaktif
adalah situasi yang memungkinkan seorang siswa atau peserta didik
berinteraksi dengan lingkungan belajar fisik (media dan sumber belajar lain)
dan guru atau narasumber. Situasi interaktif perlu memberi kesempatan
kepada siswa / peserta didik untuk menciptakan respon selama proses
penyerapan materi berlangsung. Situasi belajar interaktif juga ditandai
dengan pemberian umpan-balik segera yang dibutuhkan siswa.
b. Kegiatan instruksional
Kegiatan instruksional dianggap sebagai faktor eksternal atau lingkungan
fisik harus dirancang agar bisa menjadi landasan situas interaktif tadi.
Gagne mengungkapkan pada pelaksanaannya kegiatan instruksional, atau
selama peristiwa belajar terjadi, berupa satu rangkaian kegiatan yang
memberi peluang untuk maju. Siswa perlu dilibatkan dalam kegiatan
instruksional.
Heinich, et al, edisi ke 5, 1996 menganggap kegiatan instruksional sebagai
upaya pengaturan informasi dan lingkungan untuk membantu dan
menyediakan berbagai keperluan (facilitate) proses belajar. Lingkungan
tidak hanya berarti lokasi atau tempat proses belajar berlangsung. Termasuk
di dalamnya adalah metode, media, serta perangkat keras yang dibutuhkan
untuk menyampaikan dan menuntun / membina siswa aau peserta didik
untuk belajar. Rumusan mereka itu sejalan dengan pendapat Gagne (edisi ke
makalahTP2\DSP. 19
empat, 1992) mengenai kegiatan instruksional sebagai faktor eksternal
belajar.
* Model Interaksi Belajar-Mengajar
Heinich, et al., 1996 merumuskan interaksi belajar-mengajar berbentuk suatu
proses yang melibatkan pemilihan, pengaturan, dan penyampaian informasi
(materi belajar) serta cara atau usaha siswa untuk berinteraksi terhadap materi
tersebut. Berdasarkan definisi ini kegiatan instruksional perlu dirancang secara
optimal dan hati-hati agar respons atau interaksi bisa terjadi. Jika interaksi
terjadi, maka situasi interaktif berhasil diciptakan. Heinich, et al. menganjurkan
penerapan konsep komunikasi dari Schramm sebagai jalan keluar untuk
menciptakan situasi interaktif.
a. Model interaksi belajar-mengajar dari Schramm
Skema Schramm menggambarkan konsep dasar komunikasi yang
disesuaikan dengan kondisi belajar mengajar.
(Interaksi B – M dari Schramm, dikutip oleh Heinich, et al, 1996).
Landasan skema di atas adalah konsep dasar komunikasi. Interaksi belajarmengajar
yang baik berwujud sebagai suatu komunikasi. Komunikasi terjadi
PENGIRIM PERUMUS kode
(AKTIF)
SIGNAL PERUMUS kode PENERIMA
(PASIF)
NOISE
UMPAN BALIK
BIDANG PENGALAMAN
(Penerima)
BIDANG PENGALAMAN
(Penerima)
makalahTP2\DSP. 20
karena ada pengiriman pesan atau informasi untuk penerima melalui metode
atau saluran tertentu.
Tugas utama pengirim secara aktif, merumuskan pesan dalam bentuk kodekode
atau mengolah pesan sesuai dengan kebutuhan penerima. Kemudian,
pengirim menentukan saluran, metode tertentu disesuaikan dengan pesan
dan sifat penerima. Sebaliknya, tugas utama penerima yaitu mempersiapkan
diri untuk menerima dan mengolah pesan (dan kode-kode) tadi. Penerima,
setelah mencerna pesan, diharapkan dapat memberikan reaksi terhadap
proses pengiriman pesan.
Reaksi atau umpan balik dibutuhkan agar pengirim bisa memantau
kelancaran proses komunikasi. Titik temu atau persinggungan bidang
pengalaman pengirim dan penerima pesan (arsir pada gambar) merupakan
peningkatan pengetahuan atau informasi di pihak penerima sebagai akibat
proses komunikasi.
b. Penerapan dalam PBM
Jika diterapkan pada situasi kelas, skema ini menunjukkan bahwa guru
sebagai pengirim, sedangkan siswa sebagai penerima. Metode penyampaian
dan media disimbolkan sebagai signal. Signal sebenarnya menunjuk pada
proses pengolahan informasi meliputi pemilihan bentuk, rangkaian serta
cara sampai bentuk informasi yang diterima pada siswa. Misalnya, dalam
bentuk metode ceramah dan diskusi kelompok. Adapun titik temu atau
persinggungan yang terjadi antara bidang pengalaman guru dan siswa
dianggap sebagai hasil belajar yang berbentuk peningkatan kemampuan
atau ketrampilan siswa.
c. Model kegiatan instruksional Gagne
Gagne percaya bahwa faktor eksternal sangat berpengaruh terhadap
kelancaran proses belajar. Seperti dikutip oleh Gagne, Briggs, dan Wager,
makalahTP2\DSP. 21
model kegiatan instruksional yang diusulkan oleh Gagne meliputi 9 langkah,
tetapi dapat dibagi menjadi 4 fase. Fase-fase instruksional itu adalah :
(1). Fase Motivasi
Fase ini meliputi dua kegiatan awal, yaitu memusatkan konsentrasi belajar,
menjelaskan tujuan belajar, serta fase pengaktifan materi belajar sebelumnya.
Fase ini menunjukkan bahwa proses belajar perlu dikendalikan oleh guru.
(2). Fase Penyampaian materi belajar.
Fase ini meliputi penyampaian materi belajar (penyampaian materi inti –
materi berkaitan dengan topik, bimbingan belajar, penerapan / latihan
kinerja, serta pemberian umpan balik.
(3). Fase Evaluasi
Fase evaluasi adalah fase pemantauan proses belajar. Fase ini memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencobakan kemampuan atau
ketrampilannya dalam situasi tertentu.
(4). Fase Penerapan.
Fase penerapan berkaitan dengan pengaktifan kinerja belajar pada situasi
berbeda dari kondisi belajar-mengajar. Pada fase ini, siswa dituntut untuk
memperlihatkan kemampuannya mengadaptasi kemampuan dalam situasi
lain di luar proses belajar mengajar (PBM).
* Peran Guru
Di Indonesia, seorang guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Ia
bekerja dengan waktu yang tidak terbatas. Ia tidak hanya mengajar, namun
seringkali ia juga harus mengemban peran mendidik dalam arti yang luas.
Berikut penjelasan tentang profesi guru.
a. Guru sebagai penyaji materi
Fungsi guru yang utama selama ini adalah sebagai penyaji materi. Peran
guru ini menempatkan posisi guru bagi siswa sebagai narasumber. Ia harus
menjabarkan atau menjelaskan materi selama proses belajar berlangsung.
Peran ini terbagi dua, yakni sebagai guru kelas dan guru bidang studi.
makalahTP2\DSP. 22
(1). Guru kelas
Pada tingkat pendidikan dasar, konsep guru kelas diterapkan menyeluruh.
Guru kelas bertanggung jawab atas penyajian seluruh materi belajar serta
pengelolaan kelas di tingkat tertentu. Seorang guru kelas 3 SD, bertanggung
jawab untuk mengajar semua materi yang tercantum dalam kurikulum.
Selain itu, dia juga harus menjadi wali kelas serta mengelola kelancaran
proses belajar mengajar sehari-hari.
(2). Guru bidang studi
Guru bidang studi bertanggung jawab atas satu bidang ajaran, namun
mengajar di seluruh jenjang pendidikan. Guru bidang studi biasanya
ditemui pada tingkat pada tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMU).
Jadi, sebagai guru ia bertanggung jawab atas penyajian materinya saja serta
pengelolaan belajar bagi materinya.
b. Multiperan Guru dalam PBM
(1). Guru adalah komunikator
Berkaitan dengan penyajian materi dan penciptaan situasi interaktif di kelas,
guru harus bertindak sebagai komunikator. Seorang guru harus
memikirkan sistem penyampaian materi yang efektif. Untuk melaksanakan
tugas ini, guru perlu mengolahmateri, memilih cara penyampaian, serta
menentukan umpan balik seperti yang dibutuhkan siswa.
(2). Guru adalah perancang sekaligus pengelola PBM
Disamping penyaji materi serta komunikator, seorang guru harus mampu
menjadi perancang lingkungan dan kondisi belajar mengajar. Salah satu
wujud tuga ini berbentuk pengembangan ‘satuan pelajaran’ (SATPEL).
Satuan pelajaran ini merupakan ‘terjemahan’ dari garis-garis besar materi
yang tertuang dalam kurikulum. Satuan pelajaran disusun untuk
kebutuhan materi belajar sehari-hari. Sebagai pengelola, guru harus dapat
mengoptimalkan serta menerapkan teori-teori belajar dan teori
makalahTP2\DSP. 23
instruksional bagi penciptaan proses belajar. Selain itu, guru dituntut harus
jeli untuk memanfaatkan lingkungan bagi kepentingan siswa.
Cangelosi & Ely mendeteksi perubahan peran guru sebagai perancang dan
pengelola seiring dengan tuntutan zaman. Menurutnya, ternyata kewajiban
guru itu multiperan. Ia dituntut harus mampu membina siswa untuk
bersikap kooperatif. Siswa memang perlu dipersiapkan untuk dilibatkan
dalam proses belajar mengajar di kelas. Keberhasilan belajar harus
didukung oleh sikap kooperatif seluruh siswa yang ada di kelas.
(3). Guru adalah evaluator
Sebagai evaluator, guru harus dapat mengamati tingkat keberhasilan siswa.
Ia juga harus menentukan tehnik pengukuran dan criteria keberhasilan
belajar, menentukan format pengurukan hasil belajar. Berkaitan dengan
kesulitan belajar, guru harus mendeteksi kesulitan serta menentukan
penyelesaiannya. Pada akhir masa belajar, biasanya guru tersebut harus
menentukan keberhasilan atau “nilai” yang diperoleh siswa sebagai bahan
pertimbangan untuk kenaikan jenjang belajar.
makalahTP2\DSP. 24
* Peran Media Instruksional
a. Pengertian Media Instruksional
(1). Media sebagai saluran komunikasi belajar –mengajar
Sebagai suatu proses komunikasi, interaksi belajar-mengajar memerlukan
saluran tertentu untuk menyampaikan materi. Media sangat penting dalam
proses penyampaian materi tersebut. Heinich, et al, edisi keempat,
merumuskan media instruksional sebagai suatu saluran komunikasi,
berbentuk apa saja selama dapat menyampaikan pesan dari pengirim ke
penerima. Dengan demikian, media instruksional bisa dipilih apa saja
selama media tersebut mampu menyampaikan materi dan “membelajarkan”
penerima pesan atau siswa.
(2). Peran media instruksional
Media instruksional digunakan dalam PBM untuk mencegah timbulnya
gejala verbalisme. Gejala ini terjadi karena pesan berupa kata-kata
(pengertian abstrak) yang bisa membingungkan. Media instruksional juga
diharapkan agar menciptakan suasana yang “mendekati” kenyataan.
Kenyataan atau bentuk fisik diwakili oleh media. Seperti disarankan oleh
Bruner dan Dale – dua ahli instruksional – dengan digunakan media dalam
proses belajar, maka proses belajar menjadi lebih mudah. Apalagi jika materi
dimulai dari bersifat kongkrit menuju abstrak kontinum.
b. Kategori media instruksional
Penggunaan media dalam menyampaikan materi berkaitan erat dengan
upaya penggunaan indera manusia secara optimal. Dengan mengaktifkan
seluruh indera manusia, proses komunikasi dapat terbentuk melalui lebih
dari satu saluran saja.
makalahTP2\DSP. 25
(Penyerapan materi menurut Bruner & Dale, dikutip dari Heinich, et al, 1996).
Berdasarkan indera ini, rumusan kategori media instruksional terdiri atas :
- benda nyata atau model
- media audio, misalnya audio kaset
- media visual, misalnya foto
- media audiovisual, misalnya video
- media interaktif : komputer, interactive video, CD-ROM
* Sumber belajar
Sumber belajar merupakan upaya pelembagaan segala bentuk dan karakteristik
media instruksional. Pelembagaan tidak dimaksudkan untuk menunjuk satu
gedung atau satu atap. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan
materi belajar dan dimanfaatkan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Bagi
Demonstrasi
Simbol
Verbal
Simbol Visual
Gambar Gerak
Televisi
Pameran
Pengalaman “Buatan” (Drama)
Penggalan Pengalaman
Pengalaman Langsung
Abstrak
Kongkrit
makalahTP2\DSP. 26
Percival dan Ellington, seperti dikutip oleh Prawiradilaga, sumber belajar
diarahkan untuk penyelenggaraan proses belajar secara optimal. Sumber belajar
terbagi atas sumber belajar nonmanusia dan manusia.
a. Sumber belajar nonmanusia : Lingkungan
Pada uraian sebelumnya, seringkali lingkungan disebut-sebut dalam proses
belajar. Lingkungan memang merupakan materi belajar yang sangat
bermanfaat. Lingkungan dimana individu berada dapat dimanfaatkan sebagai
sumber materi, baik materi yang terikat dengan kurikulum, maupun materi
yang tidak mengikat namun dapat digunakan pada satu peristiwa belajar.
Lingkungan belajar memang ada yang sengaja diciptakan, seperti museum,
perpustakaan, dan sebagainya. Disamping itu, ada lingkungan alam dan
kebendaan lain yang dimanfaatkan karena kebutuhan akan penyerapan materi
tersebut. Lingkungan belajar tadi termasuk lingkungan belajar bersifat
nonmanusia. Lingkungan yang dirancang sebagai sumber belajar misalnya
museum dan perpustakaan.
b. Manusia sebagai sumber belajar
Manusia, selain guru, bisa berperan sebagai sumber belajar. Istilah sumber
belajar manusia adalah narasumber. Para pakar dan seseorang yang dianggap
ahli atau tahu secara mendalam akan sesuatu hal termasuk kelompok
narasumber. Persyaratan utama narasumber adalah memiliki wawasan luas
mengenai penerapan bidang ilmunya. Selain itu, narasumber perlu memiliki
kemampuan untuk “menularkan” kemampuan atau keahliannya kepada siswa
atau peserta didik.
c. Pusat Sumber Belajar
Pusat Sumber Belajar adalah tempat yang sengaja dirancang untuk
mengembangkan, menggunakan, menyimpan berbagai sumber belajar yang
dimanfaatkan untuk proses belajar. Tentu saja suatu pusat sumber belajar
memerlukan pengelolaan tersendiri agar pemanfaat seluruh sumber belajar
makalahTP2\DSP. 27
yang ada dapat terlaksana secara maksimal. Suatu pusat sumber belajar terdiri
atas sumber belajar nonmanusia dan manusia. Khusus sumber belajar
manusia adalah para tenaga ahli atau pakar yang dapat membantu dan
mendukung setiap pengguna atau peserta didik untuk memanfaatkan sumber
belajar dan mengatasi kesulitan belajar. Beberapa contoh tenaga ahli adalah
tenaga ahli bidang tertentu, misalnya ahli fisika, matematik, ilmu sosial serta
pakar untuk bidang proses belajar, pengembang instruksional serta ahli media
instruksional. Seluruh aspek pusat sumber belajar bersifat sistem, sehingga
setiap pihak memiliki peran penting terhadap proses belajar.
makalahTP2\DSP. 28
Heinich, Robert M.; Michael H Molenda & James D.Russell (1993). Instructional
Media and the New Technologies of Instruction (4th ed.). New York : MacMillan
Publishing, Co.
Kemp, Jerold E. & Diane K. Dayton (1985). Planning and Producing Instructional
Media (5th ed.). New York : Harper & Row, Publ.
Prawiradilaga, Dewi Salma, “Antara PSDM dan Teknologi Pendidikan : Suatu
Gagasan untuk Penerapan Teknologi Pendidikan di Dunia Bisnis”, Makalah.
Kongres II IPTPI di Malang, 1992.
-----------------, “Restrukturisasi Peran PSB bagi Masyarakat Akademik”, Makalah.
Temukarya LSB di IKIP Jakarta, 1993.
Fleming, Malcolm & W Howard Levie (1978). Instructional Message Design
Principles. Englewood Cliffs, NJ : Educational Technology Publ.
Gagne, Robert M & Leslie J. Briggs, Walter W. Wager (1992). Principles of
Instructional Design (4th ed.). Fort Wort, TX : Harcorut, Brace, Jovanovich.
Slavin, Robert E. (1993). Cooperative Learning : Theory, Research, and Practice.
Boston, MA : Allyn & Bacon.
Armstrong, Thomas (1994). Multiple Intelligences in the Classroom. Alexandria,
VA : Association for Curriculum Development.
Saettler, Paul (1990). The Evolution of American Educational Technology.
Englewood, COL. : Libraries Ltd.
Wittich, Walter A. & Charles F. Schuller (1973). Instructional Technology : Its
Nature and Use. New York : Harper & Row, Publ.
Gagne, Robert M. (Ed., 1987). Instructional Technology Foundations. Hillsdale, NJ :
Lawrence Erlbaum Assc., Publ.
Ellington, Hendry & Duncan Harris (1986). Dictionary of Instructional Technology.
London, UK : Kogan Page.
AECT (1977). The Definition of Educational Technology. Washington, DC : AECT.
NSPI (1986). Introduction to Performance Technology. Washington, DC : NSPI.
makalahTP2\DSP. 29
Seels, Barbara & Rita C. Richey (1994). Instructional Technology : The Definitions
and Domains of the Field. Washington, DC : AECT.
Ely, Donald P. & Tjeerd Plomp (1996). Classic Writings on Instructional Technology.
Englewood, COL. : Libraries Unlimited, Inc.

APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TERHADAP MUTU PENDIDIKAN

APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TERHADAP MUTU PENDIDIKAN
Oleh Weni Indriani. TP Sore A

I. Pendahuluan
Menurut Miarso (2009: 6), Teknologi Pendidikan dapat didefinisikan dengan berbagai macam formulasi. Tidak ada satupun formulasi yang paling benar, karena berbagai formulasi dibawah ini saling mengisi.
*Teknologi Pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks dan terintegrasi meliputi manusia, alat, dan sistem, termasuk diantaranya gagasan, prosedur, dan organisasi.
*Teknologi Pendidikan memakai pendekatan yang sistematis dalam rangka menganalisa dan memecahkan persoalan proses belajar.
*Teknologi Pendidikan merupakan suatu bidang yang berkepentingan dengan pengembangan secara sistematis berbagai macam sumber belajar termasuk di dalamnya pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut.
*Teknologi Pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan adanya usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian, dan aplikasi praktis perluasan serta peningkatan sumber belajar.
*Teknologi pendidikan beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan berintegrasi dalam berbagai kegiatan pendidikan.

     Semua negara di Asia Tenggara, terlepas dari tingkat perkembangan ekonominya, menempatkan pendidikan sebagai faktor kunci dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Dua masalah pokok yang pada umumnya mereka hadapi adalah peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar. Pertanyaan mendasar yang mereka usahakan jawab adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan mereka di semua jalur dan tingkatan sehingga bisa menghasilkan manusia dan generasi yang dapat memberikan kontribusi pada masyarakat, bangsa dan negaranya, mampu hidup dan bersaing dalam kancah percaturan global, namun tanpa kehilangan identitas nasionalnya (Sadiman, 2008: 3)

Berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan, Miarso (2009:7) menjelaskan bahwa Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Dr. Daoed Joesoef) pada tanggal 8 Januari 1980 dalam pidato pengarahan Lokakarya nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta menyarankan antara lain :
     Teknologi pendidikan perlu difikirkan dan dibahas terus-menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu (i) tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; (ii)keharusan meningkatkan mutu pendidikan, berupa antara lain penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidikan, dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan;(iii) penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan zaman dan kebutuhan; (iv)peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber-sumber pendidikan; (v)penyempurnaan pelaksanaan interaksi penyelenggaraan pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan isu sentral di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Masalah ini sudah lama dicoba diatasi dengan berbagai cara dan upaya namun hasilnya belumlah optimal. Teknologi Pendidikan yang merupakan bagian dari pendidikan, yang berkepentingan dengan segala aspek pemecahan masalah belajar manusia melalui proses yang rumit dan saling berkaitan, juga ikut serta berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui caranya yang khas (Siregar, 2009:1)

  1. Permasalahan
Dari beberapa hal yang telah diungkapkan dalam latar belakang di atas didapatkan permasalahan, yaitu, apakah aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan? Bagaimana aplikasi tersebut dilakukan dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.
  1. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan  apa yang menjadi  aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan  menjelaskan bagaimana aplikasi tersebut dilakukan dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.
II. PEMBAHASAN
A. Mutu Pendidikan
Pengertian mutu pendidikan yang diambil dari buku berjudul “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” (buku I konsep dan pelaksanaan) terbitan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2001 disebutkan bahwa secara umum, mutu adalah Gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang dan jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan (Zanikhan, 2008:1).
Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses yang berupa sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP, karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dsb) Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, dsb. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut (Zanikhan, 2008:2).
Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam pendidikan berskala mikro (tingkat sekolah), proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses  pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dsb.) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh guru, akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih penting peserta didik mampu belajar cara belajar (mampu mengembangkan dirinya) (Zanikhan, 2008:2).
Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik, berupa nilai ulangan umum, UN, karya ilmiah, lomba-lomba akademik; dan prestasi non-akademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, keterampilan kejujuran, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya (Zanikhan, 2008:2).
Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti : bahan ajar (kognitif, psikomotorik, afektif), metodologi yang bervariatif sesuai dengan kemampuan guru, sarana dan prasarana sekolah, dukungan administrasi, sumber daya dan dukungan lingkungan yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan saran pendukung di kelas maupun di luar kelas, baik dalam konteks intrakurikuler maupun dalam konteks ekstrakurikuler, baik dalam substansi akademis maupun non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran (Hapidin, 2010:2).
Mutu dalam konteks “hasil belajar” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap waktu cawu, akhir semester, akhir tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan  dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta, Ebtanas). Dapat pula prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: computer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dsb (Depdiknas, 2003).
 Menurut Hapidin ( 2010:2). mutu pendidikan adalah tingkat keunggulan hasil kerja dalam pendidikan baik yang berupa proses pendidikan maupun dalam hasil pendidikan.
Menurut Umaedi (1999: 4), Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah ' terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya :NEM oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya
Jadi, banyak hal yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan, yaitu bahan ajar(kogmitif, afektif, psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan), sarana sekolah, dukungan administrasi, dan sarana prasarana, sehingga  suasana belajar menjadi kondusif dan dapat meningkatkan prestasi belajar dan hasil belajar siswa.

      B. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan
Menurut Miarso (2009:78), apabila    konsep    atau     pengertian   teknologi pendidikan kita analisis, kita kan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut:  
1) memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi,    manajemen, rekayasa dan lain -lain.
2) Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serampak, dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya.
3) Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
4) Tumbuhnya daya lipat atau efek sinergi, dimana penggabungan pendekatan dan atau unsur mempunyai nilai-nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah.
Teknologi Pendidikan, sebagaimana teknologi pada umumnya, memiliki dua ciri pokok yaitu efisiensi dan efektivitas (Sadiman,2009: 117).
Jadi dapat disimpulkan bahwa aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah segala upaya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan  untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan  banyak berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.
Di beberapa Negara Asia Tenggara, aplikasi teknologi pendidikan sudah digunakan sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya e-education,di Myanmar sudah dilaksanakan sejak sekolah dasar dengan melengkapi lebih dari 3000 sekolah dengan kelas multimedia dengan peralatan teknologi seperti TV, VCD, OHP, Proyektor multimedia, computer dan laboratorium bahasa. Singapura relatif lebih maju dibandingkan Negara lain di Asia Tenggara. Teknologi komunikasi dan informasi, dengan penekanan pada komputer tidak lagi pada radio dan TV,digunakan secara luas untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan belajar mandiri. Setiap guru dilatih dalam memanfaatkan teknologi informasi. Infrastruktur ditingkatkan sehingga ratio siswa: computer menjadi 2:1, memberikan akses ke teknologi informasi untuk menunjang semua pelajaran disekolah, mengusahakan ratio guru: computer juga 2:1 dan menghubungkan semua sekolah lewat Wide Area Network (WAN) serta memberikan layanan multimedia berkecepatan tinggi. Vietnam mendayagunakan radio dan TV untuk pendidikan disamping media cetak sebgai media utama penyampaian materi pelajaran. Sejak tahun 1993 Universitas Terbuka Hanoi dan Ho Chi Minh memfasilitasi  kuliah jarak jauh lewat TV untuk beberapa jurusan tertentu(Sadiman, 2008:91).
Pada tahun 1967, University of the Philippines Los Banos (UPLB) memulai eksperimen siaran radio untuk Schools on the Air sampai tahun 1980. Ekswela ng Bayan (Strong Republic Schools), adalah program pendayagunaan teknologi yang menggunakan media cetak, radio, video, televisi kabel dan internet untuk meningkatkan pelajaran di sekolah dasar. Brunai Darussalam melaksanakan peranan televisi pendidikan dengan program Education Media and Resource Unit.
Unit ini memproduksi program pendidikan untuk SD dan SLTP dalam bentuk tape dan siaran. Guru dapat meminjam atau mengopinya. Brunai juga memiliki program radio School to school untuk siswa memamerkan karya kreatif mereka (Sadiman, 2008:91).
Beberapa aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan di Indonesia, diantaranya pengembangan bahan ajar berbasis komputer, pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran, e-learning, disamping juga pemanfaatan media cetak, seperti buku dan modul dan pemanfaatan televisi dan radio untuk pembelajaran.
Pemanfaatan televisi dan radio dalam pembelajaran, mulai dilaksanakan kembali di Indonesia. Setelah mengalami timbul tenggelam keberadaannya, saat ini televisi pendidikan sudah kembali menjadi salah satu aplikasi teknologi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pustekkom sebagai pelaksana program televisi edukasi, berusaha memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas.
      C. Televisi Edukasi sebagai Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Siaran televisi (TV) merupakan medium yang sangat ampuh (a powerful medium) menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas secara serempak. Siaran televisi telah memungkinkan masyarakat luas dapat dengan cepat dan mudah mengetahui berbagai perkembangan mutakhir yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Siaran TV juga mempunyai daya jangkau yang luas dan mampu meniadakan batasan wilayah geografis, sistem politik, sosial, dan budaya masyarakat pemirsa, di samping memiliki potensi sebagai penetratik untuk mempengaruhi sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi, dan motivasi masyarakat. Pada umumnya, siaran TV menyajikan program yang bersifat informatif, edukatif, dan hiburan. Memperhatikan alokasi waktu siaran TV untuk program pendidikan/pembelajaran yang masih relatif kecil dan mengingat potensi siaran TV yang mampu menjangkau masyarakat luas, serta masih banyaknya anggota masyarakat yang belum mampu mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu dan memadai, maka diperlukan adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan stasiun Televisi (nasional dan lokal) menayangkan program pendidikan/pembelajaran secara memadai. Pemerintah juga diharapkan terus berupaya meningkatkan kemampuan lembaga pendidikan yang bergerak di bidang perancangan dan pengembangan program siaran televisi pendidikan/pembelajaran (Siahaan, 2008: 1).
Berkaitan dengan siaran TV untuk pendidikan, Indonesia merintisnya pertama sekali melalui kerjasama dengan United Nations on International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada tahun 1982/1983. Program siaran TV pen-didikan yang dikembangkan ini bertemakan pembinaan watak anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Programnya dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan penayangannya dilakukan oleh TVRI (Wirjomartono, 1994 dalam Siahaan,2008:9). Program siaran TV yang dikembangkan melalui kerjasama ini bertujuan untuk membina atau mengembangkan watak anak-anak usia SD. Program siaran TV untuk pendidikan ini terus ditingkatkan dari waktu ke waktu sehingga pada 2 tahun berikutnya, Pustekkom telah berhasil memproduksi program film serial Aku Cinta Indonesia (ACI) dan ditayangkan oleh TVRI sekali setiap minggu. Menurut (Siahaan, 2008: 1), materi yang diakomodasikan di dalam film serial ACI dinilai siswa sesuai dengan apa yang berkembang di dalam pikiran, perasaan, maupun prilaku dan  dapat memenuhi/ menyentuh kebutuhan psikologis anak-anak.
Pengalaman empirik berikutnya adalah penayangan program Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS) yang ditayangkan setiap hari melalui stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sejak tahun 1991. Agar para siswa dapat mengikuti program STVPS di sekolah, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (PUSTEKKOM) membagikan peralatan pemanfaatan siaran televisi (televisi dan video cassette recorder) ke sekolah-sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran yang ada. Setelah penayangan program STVPS berlangsung beberapa tahun dan para siswa sudah mulai banyak yang mengetahui adanya program STVPS serta manfaatnya, penayangan program STVPS justru harus terhenti karena alasan finansial (Siahaan, 2008: 1).
Lalu tahun 1997 dijalankan Siaran Televisi Pendidikan melalui satelit siaran langsung (Siaran TV-SSL) melalui satelit Cakrawala-1. Perkembangan terakhir yang berkaitan dengan program siaran televisi pendidikan adalah dirintisnya penayangan program siaran TV Edukasi (TVE) oleh PUSTEKKOM pada tahun 2004. Siaran TVE ini bukan merupakan siaran yang terbuka seperti halnya dengan berbagai program siaran televisi yang ditayangkan oleh stasiun TV pada umumnya. Karena itu, untuk dapat mengikuti/menangkap program siaran TVE, pemirsa harus melengkapi pesawat televisinya dengan antena parabola yang diarahkan pada frekuensi tertentu sesuai dengan posisi satelit (Pustekkom, 2007: 15).
Menurut Siahaan (2008:2),siaran TV dapat dimanfaatkan untuk pendidikan/pembelajaran karena: (1) TV merupakan media massa yang kuat sekali pengaruhnya pada pembentukan pengetahuan, pola pikir, dan sikap masyarakat. Media televisi juga dinilai sangat potensial untuk menunjang pembangunan pendidikan, (2) perangkat TV sudah bukan barang mewah lagi sehingga pengadaannya sudah relatif terjangkau oleh masyarakat luas, (3) tersedianya berbagai institusi yang mengelola atau menyelenggarakan siaran TV, (4) tersedianya berbagai lembaga pendidikan yang memiliki SDM dan fasilitas untuk memproduksi program siaran televisi pendidikan, (5) tanggapan dan perhatian masyarakat yang masih lebih besar pada sisi hiburan siaran televisi, (6) masih belum banyak alokasi waktu yang disediakan stasiun pemancar TV untuk menayangkan program-program pendidikan/pembelajaran, (7) media televisi juga mampu mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu sehingga televisi dapat dikatakan sebagai media yang paling akrab dengan masyarakat , dan (8) masih banyak anggota masyarakat yang putus sekolah dan bahkan yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan dasar .
Setiap medium termasuk televisi mempunyai karakteristiknya masing-masing, baik yang berkaitan dengan potensi atau keunggulannya maupun kelemahan atau keterbatasannya. Siaran TV telah banyak digunakan untuk kepentingan pendidik-an/pembelajaran di berbagai negara. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan siaran TV untuk pendidikan, beberapa institusi di berbagai negara memanfaatkan siaran TV secara terbatas/tertutup (close circuit television atau disebut juga narrowcast). Beberapa institusi lainnya justru sebaliknya, yaitu memilih menyelenggarakan siaran televsisi untuk pendidikan secara terbuka (open broadcast atau umumnya disebut broadcast) (Siahaan, 2008:2).
Siaran TV yang dimulai pada tahun 1962 di Indonesia berfungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan menyajikan program siaran yang sifatnya informatif, edukatif, dan menghibur (Widarto, 1994 dalam Siahaan,2008:5). Dengan merujuk pada data statistik dari Biro Statistik tahun 1992, Widarto mengemukakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 9.175.400 pesawat TV (termasuk TV umum sebanyak 54.400 buah). Dari pengamatan sehari-hari tampaklah bahwa fungsi TV yang sangat dominan masih pada aspek hiburan. Masyarakat memang menikmati berbagai pertunjukan yang ditayangkan oleh TV. Bahkan TV juga sering dipandang sebagai babysitter untuk anak-anak karena dapat membuat anak-anak betah nongkrong berjam-jam di depan TV. Fungsi TV sebagai hiburan tampaknya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa. Karena itu, masyarakat seringkali tidak merasa telah menghabiskan waktu yang banyak duduk menonton TV (Siahaan,2008:3).
Selain berfungsi sebagai hiburan, siaran TV juga berfungsi sebagai sumber informasi. Masyarakat luas mendapatkan berbagai informasi mengenai per-kembangan mutakhir yang terjadi di berbagai negara dengan mudah dan cepat. Seiring dengan fungsi TV sebagai hiburan, media TV digunakan sebagai fungsi untuk menyebarluaskan informasi. Program siaran yang bersifat informasi mencakup berita, perkembangan kegiatan politik, data dan kegiatan ekonomi, pesan-pesan ilmiah, perkembangan sosial dan budaya (Siahaan,2008:3).
      Karakteristik MediumTelevisi
Berbicara tentang karakteristik sesuatu medium tidaklah terlepas dari aspek potensi atau keunggulan medium yang bersangkutan di satu sisi, dan sekaligus juga aspek kelemahan atau keterbatasan medium tersebut di sisi lainnya. Beberapa potensi atau keunggulan medium TV dapat dilihat dari ciri spesifiknya (Fahmi, 1994 dalam Siahaan, 2004 : 4), yaitu antara lain:
a. Siaran TV bersifat terbuka. Artinya, siaran TV mempunyai daya jangkau yang  sangat luas dan mampu meniadakan batasan wilayah geografis.
b. Siaran TV memiliki potensi penetratik untuk mempengaruhi sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi, dan motivasi masyarakat.
c. Siaran TV dapat berhubungan langsung dengan pemirsa tanpa harus dibatasi oleh sistem politik, sosial, budaya, dan masyarakat yang menjadi khalayak sasarannya.
Selain yang dikemukakan di atas, potensi lain yang menjadi karakteristik TV adalah kemampuannya untuk menayangkan berbagai obyek yang abstrak atau yang tidak dapat dilihat oleh mata, obyek yang berbahaya atau yang tidak dapat dijumpai di lingkungan tempat tinggal, obyek atau peristiwa yang telah terjadi dalam waktu yang lampau, proses pertumbuhan atau perkembangan dari berbagai obyek, baik yang berlangsung dalam masa yang relatif lama maupun yang tidak dapat diamati secara kasat mata, obyek dalam gerakan atau proses yang lambat sehingga dimungkinkan untuk mencermati masing-masing tahapan proses atau gerakan, dan obyek yang ditayangkan TV dapat dimanfaat-kan masyarakat pada saat yang bersamaan secara serempak dan meluas (Siahaan,2008:5).
Di samping potensi atau keunggulan yang dimiliki oleh medium televisi, menurut Siahaan (2008:5) beberapa keterbatasan atau kelemahan medium televisi disajikan berikut ini:
a.     Program pembelajaran yang berkualitas yang ditayangkan melalui siaran TV membutuhkan biaya yang besar untuk mempersiapkannya di samping menyita waktu yang relatif panjang.
b. Penayangan program siaran TV berlangsung relatif cepat, searah, dan tidak dapat diulang ulang menurut selera atau kehendak pemirsa.
c. Siaran TV tidak memberikan peluang kepada pemirsa untuk memberikan umpan balik yang bersifat segera (immediate feedbacks).
d. Perbedaan waktu yang berlaku di Indonesia mengakibatkan berbagai program siaran yang ditayangkan tidak dapat dinikmati masyarakat di wilayah tertentu karena terlalu larut malam.
e. Kecepatan penyajian program siaran TV sama untuk semua orang.

 Dampak/Pengaruh Siaran Televisi
Sejak pertama kali diterbitkan lisensi untuk pendirian stasiun TV pada tahun 1941, maka pada waktu itu juga kehidupan sehari-hari manusia mulai dipengaruhi oleh kehadiran program yang ditayangkan siaran TV. Dampaknya tentu tidak selamanya negatif. Banyak program yang ditayangkan stasiun televisi yang berdampak positif. Berbagai program tayangan TV bersifat negatif apabila bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya masyarakat pemirsa. Sebaliknya, program tayangan TV dikatakan berdampak positif apabila misalnya memberikan nilai tambah terhadap perkembangan kebudayaan dan kehidupan beragama masyarakat pemirsa, dan ilmu pengetahuan (Siahaan,2008:5).
Dewasa ini, televisi telah menjadi satu bentuk hiburan yang sangat diminati masyarakat.TV juga dipandang sebagai wahana yang baik dalam mempersiapkan anak-anak memasuki sekolah dan membantu mendidik anak-anak setelah mereka masuk sekolah. Bahkan diakui bahwa siaran televisi telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya waktu yang digunakan untuk menonton televisi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media massa (termasuk televisi) dewasa ini memainkan peranan yang signifikan dalam membentuk kehidupan anak-anak. Media massa menantang pemikiran dan kebiasaan para anak dalam berbagai cara. Dalam kaitan ini, para orangtua biasanya hanya merisaukan efek negatif televisi yang kemungkinan terjadi pada anak-anak (Siahaan,2008:5).
Berdasarkan berbagai studi yang telah dilaksanakan di berbagai negara (Sendjaja, 1999 dalam Siahaan,2008:6), dampak/pengaruh positif TV yang signifikan di kalangan anak-anak adalah bahwa program siaran televisi dapat:meningkatkan pengetahuan (umum) anak-anak, menumbuhkan keinginan atau motivasi untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lebih lanjut,meningkatkan perbendaharaan kosa-kata, istilah/jargon, dan kemampuan berbahasa secara verbal dan non-verbal, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak, meningkatkan kekritisan daya pikir anak-anak karena diperhadapkan pada dua realitas gambar dunia, dan memicu minat baca dan motivasi belajar anak-anak .
Berkaitan dengan dampak siaran TV, beberapa ahli mengemukakan bahwa televisi dapat membuat anak-anak menjadi takut dan kemudian mempengaruhi diri mereka untuk “menarik atau melarikan diri” dari kegiatan belajarnya. Selain itu, siaran TV juga dikemukakan dapat menimbulkan tingkah laku yang keras/kasar apabila mereka terlalu sering menonton program tayangan TV yang memperlihatkan prilaku kekerasan, kasar, atau sadis (Siahaan,2008:7).
Para ahli juga mengemukakan adanya dampak positif menonton TV khususnya yang menayangkan program-program pendidikan/pembelajaran. Sebagai contoh diberikan bahwa anak-anak yang teratur menonton siaran televisi yang menayangkan program pendidikan/pembelajaran, maka anak-anak akan merasa terbantu atau menjadi lebih mudah mempelajari materi pelajaran di sekolah dan juga lebih cepat memahami materi pelajaran yang diajarkan guru di sekolah (Siahaan,2008:7).
Penyelenggaraan dan Pemanfaatan Siaran TV untuk Pembelajaran
     Sejak tahun 2004 Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) menyelenggarakan siaran Televisi Pendidikan melalui Televisi Edukasi (TVE). Televisi Edukasi (TVE) merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program instruksional/pembelajaran, yang dikemas secara khusus untuk keperluan pembelajaran.Misi TVE adalah mencerdaskan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan Depdiknas dan mendorong masyarakat gemar belajar.
Agar pemanfaatan TVE dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakan pemanfaatan siaran TVE dalam program pembelajaran yang dibuat di awal semester dengan mengacu pada program siaran TVE, jika tidak sesuai dengan jadwal pelajaran dapat dijadikan program pengayaan (Warsihna et al, 2007:9)
Warsihna et al (2007:9) menjelaskan pola pemanfaatan siaran TVE dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a.    Pola klasikal, yaitu pemanfaatan siaran TVE secara terpadu dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.Agar dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Pemanfaatan klasikal ini dapat juga dibantu dengan LCD untuk tayangan yang lebih baik.
b.    Pola Kelompok Kecil, yang dikaitkan dengan tugas kelompok dilakukan oleh siswa dengan bimbingan ddan arahan guru bidang studi. Hal ini dapat juga dilakukan jika ada kesulitan dalam menyesuaikan jadwal pelajaran dan jam tayang.Selesai menyaksikan siaaran, siswa diminta untuk melakukan diskusi dan hasilnya dilaporkan kepada guru.
c.    Pola Individual, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tayangan TVE. Cara ini bermanfaat untuk pengayaan individual.
Menurut Warsihna et al (2007:9) Langkah-langkah pemanfaatan siaran TVE dapat dijalankan sebagai berikut :
a.    Penyusunan Rancangan pemanfaatan Siaran TVE yang terintegrasi dalam program pembelajaran dengan menyusun RPP yang sudah disesuaikan antara materi pelajaran, media-media yang dibutuhkan, dan jadwal siaran TVE.
b.    Kegiatan-kegiatan sebelum mengikuti Siaran TVE, adalah membaca buku bahan penyerta, mengecek kelengkapan peralatan dan mengatur tempat duduk.
c.    Selama pelaksanaan harus dipastikan semua siswa mengikuti siaran dengan baik, menjelaskan tujuan pembelajaran dan pokok materi sesuai isi buku penyerta dan menjaga suasana tetap kondusif, memberi pengayaan terhadap tayangan program dan membuat kesimpulan.
d.    Selesai menyaksikan tayangan guru mengulas materi yang disaksikan, memberi pertanyaan dan umpan balik, melanjutkan dengan praktikum jika diperlukan, mengerjakan tugas di LKS dan mengajak siswa memperkaya materi melalui sumber belajar lain yang relevan.
TVE juga dapat dimanfaatkan pada jam pelajaran kosong, jika guru berhalangan hadir dengan pantauan dari guru piket atau guru pengganti.Selain itu dapat juga sebagai bentuk penugasan kepada siswa agar siswa dapat lebih mempersiapkan diri dan lebih aktif dalam mengikuti pelajaran yang akan diberikan di dalam kelas, bentuk penugasan dapat dilakukan di sekolah atau dirumah (PR).
Salah satu program instruksional yang disiarkan oleh TVE adalah program pendidikan untuk mempersiapkan ujian nasional untuk siswa kelas III SMP yang direlay secara nasional oleh TVRI, untuk efektifitasnya disediakan juga buku bahan penyerta untuk siswa dan guru. Buku ini memuat 528 topik siaran yang terdiri dari 178 topik matematika, 178 topik bahasa Indonesia, dan 178 topik bahasa Inggris (Warsihna et al , 2007:9)
Diharapkan,Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran ini dapat membentuk siswa menjadi lebih mandiri, cepat tanggap, lebih konsentrasi dan lebih termotivasi dalam belajar (Warsihna et al, 2007:17). Sehingga dapat meningkatkan nilai akhir sebagai evaluasi pendidikan, yang akan menjadi tolak ukur dalam meningkatnya mutu pendidikan.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
          Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai.
     Aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah segala upaya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan  untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan  banyak berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.Beberapa aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan di Indonesia, salah satunya adalah pemanfaatan televisi  untuk pembelajaran.
Siaran televisi (TV) merupakan medium yang sangat ampuh (a powerful medium) menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas secara serempak. TV merupakan media massa yang kuat sekali pengaruhnya pada pembentukan pengetahuan, pola pikir, dan sikap masyarakat. Media televisi juga dinilai sangat potensial untuk menunjang pembangunan pendidikan.
Dampak/pengaruh positif TV yang signifikan di kalangan anak-anak adalah bahwa program siaran televisi dapat:meningkatkan pengetahuan (umum) anak-anak, menumbuhkan keinginan atau motivasi untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lebih lanjut,meningkatkan perbendaharaan kosa-kata, istilah/jargon, dan kemampuan berbahasa secara verbal dan non-verbal, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak, meningkatkan kekritisan daya pikir anak-anak karena diperhadapkan pada dua realitas gambar dunia, dan memicu minat baca dan motivasi belajar anak-anak.
Televisi Edukasi (TVE) merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program instruksional/pembelajaran, yang dikemas secara khusus untuk keperluan pembelajaran. TVE dapat digunakan dalam proses pembelajaran secara langsung(klasikal), kelompok kecil dan individual di sekolah maupun di luar sekolah.
Diharapkan,Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran ini dapat membentuk siswa menjadi lebih mandiri, cepat tanggap, lebih konsentrasi dan lebih termotivasi dalam belajar (Warsihna et al, 2007:17). Sehingga dapat meningkatkan nilai akhir sebagai evaluasi pendidikan, yang akan menjadi tolak ukur dalam meningkatnya mutu pendidikan.
            B. Saran
Berkaitan dengan siaran TV untuk pembelajaran, diharapkan terpanggil untuk jumlah alokasi jam siaran dapat ditingkatkan secara bertahap. Tentunya peranan pemerintah juga sangat menentukan dalam mewujudkan terselenggaranya program siaran TV untuk pendidikan/pembelajaran secara teratur. Dengan demikian, ada keseimbangan antara program siaran TV yang bersifat hiburan/ rekreasi, informasi, dan edukasi.
Karena siaran televisi mampu menjangkau masyarakat luas dan banyaknya anggota masyarakat yang belum mampu mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu dan memadai, maka diperlukan adanya suatu kebijakan, misalnya dalam bentuk Undang-Undang yang bersifat mengikat terhadap semua stasiun pemancar TV yang ada (nasional maupun lokal) untuk bersama-sama menyediakan alokasi waktu yang cukup memadai bagi penayangan program-program pendidikan/pembelajaran. Jika memungkinkan ada satu saluran televisi yang khusus menayangkan program-program pembelajaran.
Diharapkan dukungan dari banyak pihak akan menghasilkan program-program  pembelajaran yang dihasilkan semakin lebih berkualitas dan menarik.
            DAFTAR PUSTAKA
Miarso, Yusufhadi. 2009.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Prawiradilaga, Dewi S., Siregar, Eveline., Sadiman, Arief S. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Warsihna, Joko dkk. Pedoman Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi. 2007. Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan.www. tvedukasi.org. Jakarta.
Hapidin, Ahmad. 2010. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. http://ahmad-hapidin.blogspot.com/2010/08/. Diakses 12 November 2010.
Umaedi. 1999. Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. http://www. Ssep.net/director.html.  Diakses 12 November 2010.
Faqih, Abdullah. 2010.Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan. http://abdullahfaqih.multiply.com/journal/item/5. Diakses 12 November 2010
Siahaan, Sudirman. 2008.  Siaran Televisi untuk Pendidikan/Pembelajaran? pakdirman@yahoo.com. Diakses 13 November 2010.































PERANAN TELEVISI  DALAM MEMBERIKAN HAK YANG SAMA DALAM MEMPEROLEH KESEMPATAN BELAJAR BAGI SISWA DI INDONESIA MELALUI PROGRAM SIARAN PENDIDIKAN SEKOLAH”

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pernyataan World Development Report bahwa pendidikan adalah kunci untuk menciptakan, menyerap, dan menyebarluaskan pengetahuan,   Oleh sebab itu, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak dan kewajiban masyarakat dalam bidang pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut dalam UU No. 20 Tahun 2003 bagian konsenderan mengatakan bahwa system pendidikan harus mampu menjamin Pemerataan pendidikan , mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen untuk menghadapi tantangan perubahan kehidupan local ,Nasional dan global. Berdasarkan hal tersebut maka kewajiban pemerintah mewujudkan nya
Masalah pemerataan merupakan masalah di bidang pendidikan pada negara berkembang, termasuk Indonesia seperti tingginya angka putus sekolah sebagaimana yang disiyalir oleh salah satu surat kabar yang terkenal yaitu kompas— Angka putus sekolah di jenjang pendidikan dasar hingga saat ini masih tinggi. Siswa yang putus sekolah di tingkat SD dan SMP sekitar 768.960 orang, terdiri atas 527.850 siswa SD dan 241.110 siswa SMP. Mereka putus sekolah terutama akibat persoalan ekonomi. Selain itu, sekitar 920.000 lulusan SD tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMP dengan beragam alasan. Adapun lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA sederajat lebih banyak lagi, yakni sekitar 30,1 persen atau sekitar 1,26 juta siswa. Selasa (12/10/2010). JAKARTA, KOMPAS.com.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, misalnya melalui pembangunan gedung sekolah baru, peningkatan daya tampung pada sekolah-sekolah yang telah ada, penambahan fasilitas belajar, pengadaan dan pengangkatan tenaga guru, pemberian beasiswa, dan lain-lain. Namun upaya itu ternyata belum dapat mengatasi masalah pemerataan pendidikan secara tuntas.. Padahal sebagai sesama anak bangsa, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung memperoleh pendidikan, sebagaimana dijamin oleh pasal 31 Undang-undang Dasar 1945. Dalam wilayah negara Indonesia yang luas dengan karakteristik geografis dan demografis yang begitu beragam, sangat sulit memberikan layanan pendidikan yang dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama anak-anak yang memiliki berbagai kendala ekonomi, geografis dan waktu.
Televisi salah satu media massa yang bersifat audio visual sangat mudah mempengaruhi persepsi seseorang. Di Indonesia televisi sudah merupakan media yang dominan dalam menyebarkan gagasan dan informasi.
         Namun di Indonesia, setiap anak dapat menonton televisi selama 3,5 – 5 jam sehari. Anak-anak tidak hanya menonton tayangan yang memang ditujukan bagi mereka, tetapi juga tayangan yang belum pantas untuk mereka tonton. Kondisi ini terjadi tanpa pengawasan yang ketat dari orang tua .Data pola menonton televisi pada anak-anak menunjukkan bahwa jumlah jam menonton anak-anak melampaui batas jam menonton ideal. Angka 35 jam per minggu, berarti sama dengan 1820 jam per tahun, padahal jam belajar anak sekolah dasar menurut United Nations Education and Culture Organization (UNESCO) tidak melebihi 1000 jam per tahun. Jika melihat perbandingan jumlah jam menonton televisi dengan jumlah jam belajar di sekolah, maka dikuatirkan proses pembentukan pola pikir, karakter, dan perilaku anak justru terbentuk melalui tayangan televisi. http://padekan.wordpress.com/pag e/2.\
Perkembangan  Illmu Pengetahuan dan teknologi serta perubahan arus globalisasi yang makin maju dan canggih membawa akibat kemajuan dan dalam bidang teknologi pendidikan Oleh sebab itu perlu kira  menawarkan kepada kita untuk mengambil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah pendidikan    Program siaran pendidikan amat penting bagi anak terutama yang berkaitan dengan siaran televisi yang membahas tentang materi pelajaran sekolah agar dapat membantu proses pembelajaran siswa . Untuk itu makalah ini diberi judul “PERANAN TELEVISI  DALAM MEMBERIKAN HAK YANG SAMA DALAM MEMPEROLEH KESEMPATAN BELAJAR BAGI SISWA DI INDONESIA MELALUI PROGRAM SIARAN PENDIDIKAN SEKOLAH”
B. Masalah
Berdasarkan latar belakang maka masalah dalam makalah ini adalah: Apa yang menjadi kendala dalam pelaksanan siaran pendidikan di Indomesia ?.....
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :Untuk mengetahui gambaran umum kendala-kendala yang muncul dalam penyiaran program siaran pendidikan Melalui Televisi  di Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PEMERATAAN PENDIDIKAN
Pemerataan pendidikan mencakup dua aspek yaitu equality dan equity. Equality atau persamaan mengandung arti persamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, sedangkan equity bermakna keadilan dalam memperoleh kesempatan pendidikan yang sama diantara berbagai kelompok dalam masyarakat. Akses terhadap pendidikan yang merata berarti semua penduduk usia sekolah telah memperoleh kesempatan pendidikan, sementara itu akses terhadap pendidikan telah adil jika antar kelompok bisa menikmati pendidikan secara sama (Eka, R. 2007. Kondisi Pemerataan Pendidikan di Indonesia, http://edu-articles.com).
Menurut Rawls prinsip Keadilan Distributif the principle of fair equality of opportunity menunjukkan pada mereka yang paling kurang mempunyai peluang untuk mencapai prospek kesejahteraan, pendapat dan otoritas. Mereka inilah yang harus diberi perlindungan khusus. (http://m31ly.wordpress.com/2009/11/13/6/)  .Coleman dalam bukunya Equality of educational opportunity mengemukakan secara konsepsional konsep pemerataan yakni : pemerataan aktif dan pemerataan pasif. Pemerataan pasif adalah pemerataan yang lebih menekankan pada kesamaan memperoleh kesempatan untuk mendaftar di sekolah, sedangkan pemerataan aktif bermakna kesamaan dalam memberi kesempatan kepada murid-murid terdafar agar memperoleh hasil belajar setinggi-tingginya (Ace Suryadi , 1993 : 31).
Dalam pemahaman teori Human Capital yang dipelopori oleh Theodore W. Schultz, manusia merupakan suatu bentuk kapital sebagaimana bentuk kapital-kapital lainnya yang sangat menentukan bagi pertumbuhan produktivitas suatu bangsa. Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi Sumber daya manusia, dengan pendidikan seseorang dapat memperluas pilihan-pilihan bagi kehidupannya baik dalam profesi, pekerjaan, maupun dalam kegiatan-kegiatan lainnya guna meningkatkan kesejahteraan hidupny.
 Dalam pemahaman seperti diatas pemerataan pendidikan mempunyai makna yang luas tidak hanya persamaan dalam memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga setelah menjadi siswa harus diperlakukan sama guna memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk dapat berwujud secara optimal.Pendidikan dalam makalah ini pemerataan pendidikan adalah dalam cakupan aspek equity. Sejalan dengan itu UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”, dan pasal 11, ayat (1) menyatakan “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Oleh sebab itu maka anak anak di Indonesia ini harus mendapatkan kesempatan yang sama memeroleh kesempatan untuk belajar.
A. Faktor Yang Mempengaruhi Pemerataan pendidikan
1.     Faktor  kemiskinan
 Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan hal itu saat hadir dalam Seminar Nasional Pramuktamar V Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang bertema ”Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Bermutu Berbasis Karakter” di Jakarta, Selasa (12/10/2010).  JAKARTA, KOMPAS.com — Angka putus sekolah di jenjang pendidikan dasar hingga saat ini masih tinggi. Siswa yang putus sekolah di tingkat SD dan SMP sekitar 768.960 orang, terdiri atas 527.850 siswa SD dan 241.110 siswa SMP. sekitar 920.000 lulusan SD tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMP dengan beragam alasan. Adapun lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA sederajat lebih banyak lagi, yakni sekitar 30,1 persen atau sekitar 1,26 juta siswa.
 Menurut Nuh, alasan utama tingginya angka putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena faktor ekonomi dan sulitnya akses ke sekolah. Karena itu, penyelesaian yang ditawarkan pemerintah juga harus menjawab akar masalah yang dihadapi masyarakat dihadapi masyarakat. http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/13/.
Masalah putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar merupakan persoalan serius yang dapat mpengaruhi keberhasilan penuntasan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun., Untuk itu, agenda penting yang harus menjadi prioritas adalah peningkatan pemerataan pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat miskin. Mayoritas kaum miskin di Indonesia tinggal di tempat-tempat jauh yang terpencil. Mereka praktis kekurangan segalanya; fasilitas, alat-alat transportasi dan komunikasi di samping rendahnya pengetahuan merekaterhadap teknologi.
Perbaikan hidup masyarakat yang miskin lebih banyak menjadi sasaran pemerintah dengan menyediakan fasilitas umum terutama fasilitas  pendidikan yang lebih berkualitas,lebih efektif dan mudah terjangkau  dengan perbandingan kondisi yang proporsional tiap daerah. Pemrintah  harus mengusahakan   mobilasasi sumber-sumber lokal dan nasional.untuk hal tersebut .Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antar  wilayah geografis yaitu antara perkotaan dan perdesaan, serta antara kawasan timur Indonesia (KTI) dan kawasan barat Indonesia (KBI), dan antar tingkat pendapatan penduduk ataupun antar gender.
 Bahkan sekalipun di lokasi-lokasi seperti itu dibangun sekolah reguler, belum tentu kelompok anak  yang memiliki kendala tersebut sempat mengikuti pendidikan karena kesibukannya bekerja membantu orang tua mencari nafkah.Untuk mengatasi kebutuhan pendidikan bagi mereka adalah upaya penerapan cara non konvensional .Cara lain itu adalah memanfaatkan potensi, kemajuan serta keluwesan teknologi yang dapat mewujudkan keadilan dan pemerataan pendidikan http://www.google.com ./ http://edu-articles.com, 10 May 2010,  Berdasarkan pendapat ini perlu kiranya pemerintah membangun suatu jaringan informasi yang dapat memaksimalkan pemerataan pendidikan di Indonesia.
 2. kondisi wilayah Indonesia  yang cukup luas dan tidak merata
Secara geografis wilayah  Indonesia terdiri 2/3 kepulauan (air), Pegunungan dan 1/4 adalah daratan. Dalam wilayah negara Indonesia yang luas dengan karakteristik geografis dan demografis yang begitu beragam, sangat sulit memberikan layanan pendidikan yang dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama   anak-anak yang memiliki berbagai kendala ekonomi, geografis dan waktu.   Hal ini menjadikan salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya anak-anak  putus sekolah  .  
B.  Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Pemeratan Pendidikan
1.  Pengertian Teknologi Pendidikan
 Haryono dalam syukur (2008:1) mengatakan  bahwa Teknologi pendidikan adalah Teknologi yang melibatkan prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis  masalah pendidikan mencari problem solving , melaksanakan evaluasi dan mengelola masalah yang menyangkut semua apek pembelajaran dalam pendidikan. 
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.Ini adalah definisi terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik) dan meningkatkan kinerja.. AECT(2004):
Sumber:http://uhangdusun.blogspot.com/2009/06/pengertian-teknologi-pendidikan- 22.html
Januszewski (2008:1) menyatakan bahwa: Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources. (Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi).             
 Sementara itu, Miarso (2006:240) menyatakan “Teknologi Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk mengatasi masalah belajar manusia.
Berdasarkan pendapat diatas dapat kita tarik kesimpul bahwa Teknologi Pendidikan adalah studi dan etika prektek yang melibatkan orang, gagasan, prosedur, peralatan dan organisasi untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi dalam rangka untuk memecahkan masalah pendidikan dan masalah belajar manusia.)
 Salah satu produk kemajuan teknologi adalah televisi. Media elektronik ini menjadi sarana bagi kita untuk dapat meneropong segala aktivitas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Berkat teknologi ini, dunia nyaris dibuat tanpa sekat. Di samping sebagai penyampai informasi, televisi juga bisa berfungsi sebagai media pendidikan sekaligus mentransfer pembelajaran dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Menurut Dr. Jack Lyle (http://mediatelevisipdidi.blogspot. )
 Salah-satu-produk-kemajuan-teknologi., televisi dengan gambar audio visualnya sangat membantu dalam mengembangkan daya kreasi Aanak kita, bahwa dalam pikiran kita ada semacam ilustrasi gambar dan gambar-gambar ini merupakan suatu yang penting dalam hubungannya dengan proses belajar, terutama sekali yang berkenaan dengan orang, tempat dan situasi yang tidak setiap orang pernah mengunjungi atau telah mempunyai pengalaman.
 Dari pendapat itu dalam perkembangannya membuktikan bahwa dengan sifat audio visual yang dimiliki oleh televisi, menjadikan televisi sangat pragmatis, sehingga mudah mempengaruhi penonton dalam hal: sikap, tingkah laku dan pola pikirnya, maka pantaslah kalau dalam waktu relatif singkat televisi telah menempati jajaran teratas candu elektronik dari jajaran media massa .Jadi, apabila kita tarik benang merah antara kebiasaan menonton televisi dan proses belajar pada diri anak-anak, sebenarnya televisi dapat pula berfungsi sebagai media pendidikan. Pesan-pesan edukatif baik dalam aspek kognitif, apektif, ataupun psikomotor bisa dikemas dalam bentuk program televisi. Secara lebih khusus televisi dapat dirancang/dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pesan-pesan instruksional, seperti percobaan di laboratorium, field-trip, kegiatan baksos, keterampilan, teater, musik dan drama sekolah dan banyak lagi yang dapat diperlihatkan melalui tayangan televisi.
2. Keuntungan Televisi Sebagai Media Pembelajaran
1.  Televisi bisa memberikan penekanan terhadap pesan-pesan khusus pada peserta didik, misalnya melalui teknik close-up, penggunaan grafis/animasi, sudut pengambilan gambar, teknik editing, serta trik-trik lainnya yang menimbulkan kesan tertentu pada sasaran sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
 2. Media televisi dapat menyajikan pesan/objek yang sebenarnya termasuk hasil dramatisir secara audio visual dan unsur gerak (live) dalam waktu bersamaan (broadcast). Pesan yang dihasilkan televisi dapat menyerupai benda/objek yang sebenarnya atau menimbulkan kesan lain.
3. Media televisi ini memiliki potensi besar dalam merubah sikap dan perilaku masyarakat, dengan kata lain acara-acara tersebut disertai dengan fakta dan ilustrasi yang menarik berupa gambar-gambar dan rekaman peristiwa yang sebenarnya, sehingga kita bisa membayangkan dan menikmati seolah-olah hal tersebut memang benar-benar kita alami.
Hal ini akan mempercepat kerja otak kita untuk menerima beberapa hal baru tentang pengetahuan. Serta meningkatkan kemampuan kita dalam berimajinasi secara kreatif. Hal ini berarti bahwa audio visual dapat memberikan pengalaman-pengalaman yang baru sesuai dengan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya, atau dapat memberikan pengalaman semu atau Simulated Experience. Namun perlu dicermati, terutama bagi orang tua dan guru sebagai pendidik dan pembimbing utama anak bahwa mereka lah yang memegang kendali untuk mengenalkan dan memilihkan program-program acara yang sesuai serta bermuatan ilmu pengetahuan pada mereka. Dampingi mereka ketika menonton acara tersebut. Hal ini akan membantu apabila terdapat beberapa hal yang tidak mereka mengerti untuk ditanyakan kepada kita Dalam teori Cultivasi, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak Anda tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak Anda dengan televisi Anda belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. http://nurudin-umm.blogspot.com/2008
Penyiaran program pendidikan diluncurkan melalui TVRI dirintis baru pertama kali pada 17 Juni 2006 oleh Menteri Pendidikan Indonesia, program Televisi Pendidikan dalam penyiarannya bekerjasama dengan TVRI (Televisi Republik Indonesia) dengan alasan penyiaran dengan televisi nasional seperti TPI(Sekartang Berubah label perusahaan MCN TV)dan bekerja sama dengan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) dengan Televisi Edukasi (TVE) merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program instruksional/pembelajaran, yang dikemas secara khusus untuk keperluan pembelajaran, .terhambat dengan adanya beberapa daerah dan tempat yang belum masuk gelombang siaran dari Televisi  tersebut. Digandeng TVRI karena gelombang siaran televisi nasional ini telah mencapai hampir seluruh titik di nusantara ini .
Penyiran yang dilakukan oleh telesvi nasional milik pemerintah dilakukan pada pagi hari pada waktu jam sekolah berlangsung,dan untuk sekolah yang menyenggarakan proses pembelajarannya siang hari penyiaran program ini disiarkan pada sore hari sekitar jam 14.00 siang . dengan adanya siaran ini diharapkan dapat membantu poses pembelajaran siswa agar mudah memahami ,mengerti, mendalami materi yang ada pada kurikulum .sehingga tuntutan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan penyedian kesempatan belajarbagi anak usia sekolah semaksimal mungkin dapat terlaksana
Pengalaman empirik berikutnya adalah penayangan program Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS) yang ditayangkan setiap hari melalui stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sejak tahun 1991. Agar para siswa dapat mengikuti program STVPS di sekolah, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (PUSTEKKOM) membagikan peralatan pemanfaatan siaran televisi (televisi dan video caassette recorder) ke sekolah-sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran yang ada. Setelah penayangan program STVPS berlangsung beberapa tahun dan para siswa sudah mulai banyak yang mengetahui adanya program STVPS serta manfaatnya, penayangan program STVPS justru harus terhenti karena alasan finansial (Siahaan, 2008: 1).
Pada tahun 1997 dijalankan Siaran Televisi Pendidikan melalui satelit siaran langsung (Siaran TV-SSL) melalui satelit Cakrawala-1. Perkembangan terakhir yang berkaitan dengan program siaran televisi pendidikan adalah dirintisnya penayangan program siaran TV Edukasi (TVE) oleh PUSTEKKOM pada tahun 2004. Siaran TVE ini bukan merupakan siaran yang terbuka seperti halnya dengan berbagai program siaran televisi yang ditayangkan oleh stasiun TV pada umumnya. Karena itu, untuk dapat mengikuti/menangkap program siaran TVE, pemirsa harus melengkapi pesawat televisinya dengan antena parabola yang diarahkan pada frekuensi tertentu sesuai dengan posisi satelit (Pustekkom, 2007: 15). Penyelenggaraan dan Pemanfaatan Siaran TV untuk Pembelajaran
Sejak tahun 2004 Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) menyelenggarakan siaran Televisi Pendidikan melalui Televisi Edukasi (TVE). Televisi Edukasi (TVE) merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program instruksional/pembelajaran, yang dikemas secara khusus untuk keperluan pembelajaran.Misi TVE adalah mencerdaskan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan Depdiknas dan mendorong masyarakat gemar belajar.
Agar pemanfaatan TVE dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakan pemanfaatan siaran TVE dalam program pembelajaran yang dibuat di awal semester dengan mengacu pada program siaran TVE, jika tidak sesuai dengan jadwal pelajaran dapat dijadikan program pengayaan (Warsihna et al, 2007:9)
TVE juga dapat dimanfaatkan pada jam pelajaran kosong, jika guru berhalangan hadir dengan pantauan dari guru piket atau guru pengganti.Selain itu dapat juga sebagai bentuk penugasan kepada siswa agar siswa dapat lebih mempersiapkan diri dan lebih aktif dalam mengikuti pelajaran yang akan diberikan di dalam kelas, bentuk penugasan dapat dilakukan di sekolah atau dirumah (PR). Salah satu program instruksional yang disiarkan oleh TVE adalah program pendidikan untuk mempersiapkan ujian nasional untuk siswa kelas III SMP yang direlay secara nasional oleh TVRI, untuk efektifitasnya disediakan juga buku bahan penyerta untuk siswa dan guru. Buku ini memuat 528 topik siaran yang terdiri dari 178 topik matematika, 178 topik bahasa Indonesia, dan 178 topik bahasa Inggris (Warsihna et al , 2007:9)
Diharapkan,Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran ini dapat membentuk siswa menjadi lebih mandiri, cepat tanggap, lebih konsentrasi dan lebih termotivasi dalam belajar (Warsihna et al, 2007:17). Sehingga dapat meningkatkan nilai akhir sebagai evaluasi pendidikan.
 Secara psikologis, kedekatan kita (orangtua/guru) dapat terjalin dengan baik. Dari sini jelas, di saat nonton acara televisi, tugas orang tua adalah senantiasa mendampingi dan memberikan arahan kepada anak. Mereka harus menjelaskan dampak positif dan egatifnya, menjelaskan acara apa saja yang layak dan tidak layak ditonton. Apabila acara televisi tersebut berbenturan dengan waktu shalat, ngaji maupun waktu belajar maka, orang tua harus mengarahkan mereka agar melakukan kewajibannya dulu.Oleh sebab itu jika dalam keseharian orang tua tidak mampu memberi teladan kepada anak, maka mereka akan meniru dari apa yang mereka lihat di sekelilingnya, termasuk media televisi. Namun jika televisi tidak mampu memberikan teladan, di mana lagi anak-anak akan mencari tokoh panutannya. Pada tahun 1996 kelompok-kelompok masyarakat yang peduli terhadap isu-isu konsumen, acara untuk anak-anak yang ditayangkan televisi, mendorong pemerintah untuk membuat UU Penyiaran untuk menjadi pedoman praktis dan standar mata acara yang dapat diterima publik. Agenda selanjutnya adalah membuat acara televisi yang mendidik. Acara televisi yang mendidik ini harus memiliki beberapa syarat, yaitu isi pesannya baik audio maupun visualnya harus sesuai dengan selera anak-anak. Demikian pula waktu penayangannya hendaklah disajikan pada jam anak-anak, yaitu jam sebelum tidur (sore dan sebelum pukul 21.00). Agenda yang tak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kesadaran kritis anak terhadap televisi, di mana yang berperan di sini adalah orang tua, guru maupun tokoh keagamaan. Pemerintah sebagai pembimbing masyarakat melakukan semacam media education yang bertujuan mendidik masyarakat agar menonton televisi secara kritis,benardanprofesional(VenusKhadiz,1997)
3.Kendala  Penyiaran Program Pendidikan.
A.       Tidak adanya Pesawat Televisi di Rumah Sekolah
Kemampuan setiap sekolah berbeda –beda . ada yang mempunyai dana yang besar ada yang kecil sehingga fasilitas yang dimiliki sekolahpun beraneka ragam. Ada sekolah yang memiliki televisi ada yang tidak Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah berusaha untuk memberikan bantuan televisi kepada sekolah di Indonesia Seperti kata bapak menteri disalah satu surat kabar nasional. "Televisi ini lahir sebagai akibat dari kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan kultur yang berbeda-beda di Indonesia sehingga ada beberapa daerah yang tidak terjangkau akses pendidikan. Oleh karena itu, dengan kehadiran TV ini, diharapkan dapat mengatasi persoalan pendidikan di daerah pelosok. Anggap saja ini kado Hardiknas," ucap Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh saat meresmikan peluncuran televisi tersebut di Jakarta, Minggu (2/5/2010).
TV Citra Indonesia Terampil ini akan mengudara melalui televisi berlangganan Indovision di channel 845. Pemilihan channel 845 tersebut juga memiliki makna filosofis, yakni merujuk pada angka bulan dan tahun hari kemerdekaan RI."Semua layanan ini sifatnya gratis. Kami akan ikut berpartisipasi membantu infrastruktur yang dibutuhkan, seperti penggunaan satelit," ungkap CEO MNC Grup Harry Tanoesudibyo.Nantinya, televisi tersebut akan menayangkan program-program pendidikan yang mengarah pada keterampilan hidup, selain pelajaran tingkat sekolah dasar dan menengah. Hingga kini, TV Citra dengan bekerjasama televisi milik pemerintah dan televisi lokal penyiaraannya  sudah menjangkau dua ratus titik di Indonesia, dengan target mencapai seribu titik dan."Di tiap daerah akan diberikan televisi besar, termasuk dekoder, sehingga pembelajaran bisa dilakukan dengan bantuan televisi ini," ujar Mohammad Nuh.
Dengan adanya ini  permasalahan pendidikan di daerah pelosok Keterbatasan dana dan infrastruktur membuat pendidikan di daerah pelosok menjadi terpinggirkan merupakan masalah yang tidak pernah selesai.. Dengan kehadiran televisi ini, diharapkan daerah-daerah terpencil mampu mengejar ketertinggalannya di bidang pendidikan.
B. Mahalnya dana yang diperlukan
 Penyiaran program pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dalam mengatasi masalah pemerataan pendidikan membutuhakan dana yang cukup besar., Pos pengeluaran terbesar untuk pengadaan pesawat televisi sejumlah 75.000 unit yang nantinya dibagikan pada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia yang konon besarnya mencapai 213,69 milyar rupiah,. Oleh sebab itu jika televisi yang diberikan disekolah tidak digunakan dalam prose pembelajaran maka akan sangat disayangkan.
C.  Model program penyiaran siaran pendidikan yang tidak dialogis.
 Di sisi lain, model pendidikan berbasis video seperti yang pemerintah dan TVRI lakukan tidak akan menghadirkan interaktifitas antara guru dan siswa, mengingat metode pembelajaran ini hanya menghasilkan komunikasi satu arah, yakni siswa hanya dapat melihat dan mendengarkan tayangan televisi saja, tetapi tidak dapat berkomunikasi layaknya diskusi antara guru dan siswa di dalam kelas.
Proses belajar yang tidak dialogis seperti ini harusnya dapat dijembatani dengan memodifikasi atau menambah metode distribusi penyiaran konten pendidikan tanpa menghentikan proses yang telah dilakukan. Lewat model pembelajaran yang variatif seperti ini siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dibandingkan cara belajar konvensional. Atau yang lebih baik lagi pemerintah mengirimkan televisi sekaligus dengan videonya Satu set VCD/DVD yang dibagikan ke sekolah-sekolah agar dapat dipergunakan sekolah untuk tahun berikutnya atau bisa selanjutnya bebas untuk digandakan kembali. siswa yang membutuhkan nantinya dapat meminta atau membeli VCD/DVD copian ke pihak sekolah. Berbekal VCD/DVD tersebut siswa dapat belajar mandiri di rumah atau dimana saja sesuai keinginan mereka. Sedangkan guru nantinya bertindak sebagai pendamping yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa ketika mereka menemui kesulitan atau mendapati sesuatu yang kurang jelas..
BAB III
     PENUTUP
A. Kesimpulan
       Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa besar sekali peran televisi bagi perkembang anak-anak. Untuk itu pemanfaatan televisi dalam pendidikan akan menumbuhkan semangat dan keinginannya untuk belajar. Dan dengan adanya program penyiaran pendidikan pada televisi diharapkan dapat memeratan kesempatan belajar bagi siswa –siswa di Indonesia  khususnya anak yang memiliki kendala ekonomi, waktu dan geografis.
D.  Saran
Dalam menonton program siaran televisi agar kiranya orang tua mendamping siswa agar proses penyerapan pengetahuan terhadap anak dengan baik. Di saat nonton acara televisi, tugas orang tua adalah senantiasa mendampingi dan memberikan arahan kepada anak. Mereka harus menjelaskan dampak positif dan negatifnya, menjelaskan acara apa saja yang layak dan tidak layak ditonton. Apabila acara televisi tersebut berbenturan dengan waktu shalat, ngaji maupun waktu belajar maka, orang tua harus mengarahkan mereka mana yang harus didahulukan.
DAFTAR PUSTAKA
 Miarso, Yusufhadi. 2009.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Prawiradilaga, Dewi S., Siregar, Eveline., Sadiman, Arief S. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Syukur ,Fatah., 2008.Teknologi Pendidikan .RaSail Media Group. Semarang
Warsihna, Joko dkk. Pedoman Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi. 2007. Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan.www. tvedukasi.org. Jakarta.
Selasa (12/10/2010). JAKARTA, KOMPAS.com. Diakses 27 Nopember 2010
http://padekan.wordpress.com/pag e/2. Diakses 27 Nopember 2010
http://edu-articles.com). Diakses 27 Nopember 2010
Jakarta, Minggu (2/5/2010). 27 Nopember 2010